Uba dan Bagor

Pada 8 Oktober 2018, memasuki hari ke empat Bagor dan Uba berada di Donggala, Sulawesi Tengah. Mereka ikut bergabung dengan Tim Relawan Kemanusiaan Insist. Setelah assessment di Donggala selesai, ada rencana mereka akan pindah ke Palu, juga bersama tim TRK Insist.

Uba tiba di Makassar Rabu dini hari, 3 Oktober 2018. Ia berangkat dari Padang, kebetulan Uba sedang Mudik. Bagor sudah menunggu Uba. Ia tiba di Makassar dua hari lebih cepat dari Uba. Rabu malam mereka berangkat bersama TRK Insist menuju Donggala. Jumat pagi, 5 Oktober 2018, tim tiba di Donggala. Continue reading “Uba dan Bagor”

Entropi dan Nir-limbah

Sekira tujuh tahun saya mengenyam pendidikan formal di fakultas teknik, memelajari teknik nuklir yang membikin pusing kepala. Tak banyak hal yang bisa saya ingat dari semua itu kini. Satu dari yang begitu sedikit itu, adalah pelajaran termodinamika tentang entropi.

Secara umum, entropi berarti derajat keacakan. Dalam konteks kosmis, entropi selalu bernilai positif. Ini memiliki makna bahwa sepanjang waktu, jagat raya menuju keacakan yang semakin besar. Semua ini alamiah terjadi di jutaan galaksi yang telah diketahui dan belum diketahui. Continue reading “Entropi dan Nir-limbah”

Bagor

Kedua orang tuanya menamainya Muh Fauzan Affandi. Dalam bahasa arab, Fauzan memiliki akar kata yang sama dengan Fawaz, salah satu artinya adalah ‘beruntung’. Teman-teman di organisasi kami karib menyapanya ‘Bagor’. Ini bukan Bagor tokoh legendaris di buku ‘Para Bajingan Yang Menyenangkan’ itu. Ini Bagor yang lain, Bagor yang asli Sleman dan mengambil studi jurusan teknik sipil di kampus kami.

Konon kabarnya, Ia diberi nama lapangan Bagor karena tenaganya yang berlebih dibanding teman-teman lainnya. Kekuatan fisiknya bikin para seniornya kagum kemudian menamainya ‘Bagor’ singkatan dari ‘Bayi Gorila’. Saya tak mengalami langsung sejarah pendidikan dasar Bagor dan rekan-rekannya di organisasi kami. Karena ketika mereka berproses, saya sedang bertugas di Sokola Rimba, Jambi. Continue reading “Bagor”

Catatan Kecil Tentang Tuntutan Kemerdekaan Papua

Di sebuah kampung di pedalaman Papua, di suatu pagi yang mulai panas oleh cahaya matahari. Derap langkah puluhan manusia di atas rumah panggung yang terbuat dari kayu besi terdengar riuh. Puluhan anak berbagai usia, berkulit hitam, berambut keriting dengan senyum manis terpancar dari wajah mereka berkumpul di bangunan yang diperuntukkan sebagai ruang belajar mereka. Kaca-kaca pecah, atap bangunan rusak tertimpa pohon tumbang, air mengalir darinya saat hujan turun, timbulkan genangan dalam ruangan yang lama tak terurus. Continue reading “Catatan Kecil Tentang Tuntutan Kemerdekaan Papua”

Lapar

Pada 2016, Organisasi Pangan dan Pertanian di bawah PBB (FAO) mencatat ada lebih dari 815 juta jiwa di seluruh dunia yang menderita kelaparan. Angka ini meningkat 38 juta jiwa dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi yang pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.

Angka kelaparan dunia ini mencapai 11,3 persen dari seluruh populasi dunia. Lebih dari separuhnya, sekitar 520 juta jiwa berada di Benua Asia. Selain itu, kelaparan ini paling besar mempengaruhi masyarakat di benua Afrika. Lebih dari 20 persen populasi manusia di benua Afrika merasakan langsung dampak kelaparan dan lebih dari 45 persennya terkena imbas tak langsung dari bencana kelaparan ini. Bank Dunia lewat pelabelannya terhadap negara-negara yang dianggap miskin dan berkembang menyatakan musibah kelaparan ini paling besar dialami oleh kedua tipe negara tersebut. Continue reading “Lapar”

Merdesa di Kaki Gunung Merbabu

Sebagai orang yang lahir dan melewati masa kecil hingga remaja tak jauh dari pusat kota Jakarta, gambaran-gambaran tentang kehidupan di desa begitu mengusik pikiran saya. Entah mengapa, desa seakan memanggil saya untuk terus berkunjung, untuk terus tinggal berlama-lama dan belajar banyak hal di sana. Bukan, bukan gambaran tentang desa yang dikonstruksi melulu baik, bukan juga desa yang di sana ditimbun segala stigma buruk semisal tertinggal, terbelakang, dan primitif. Bukan itu semua. Saya kira, seperti tempat-tempat lainnya, desa juga dinamis. Bermacam kebaikan bergandengan dengan ragam bentuk keburukan. Ada hal lain yang sulit saya jelaskan yang membikin saya begitu tertarik dengan desa, lebih lagi dengan desa-desa yang terletak di kaki gunung.

Entah sejak kapan konstruksi eksotisme desa mulai terbentuk, namun orde baru berhasil memasarkan konstruksi eksotisme desa itu secara sistematis dan terpola. Orde baru mengonstruksi desa sebagai ‘surga’ di bumi. Desa adalah tempat yang asri, sejuk, hening, hijau dan rimbun, sawah terhampar, gunung tinggi menjulang, pantai indah mudah diakses, tempat kita bisa rekreasi, memancing, dan berbagai macam hal lainnya tempat kedamaian dan kebahagiaan berasal. Di desa pula tempat kita berkunjung ke kakek dan nenek, pulang ke kampung halaman, tempat kita bisa bertemu petani, nelayan, dan orang-orang baik yang serba baik dan serba menyenangkan. Apa ada desa atau dusun atau kampung yang seideal yang digambarkan di atas? Saya rasa tidak. Continue reading “Merdesa di Kaki Gunung Merbabu”

Balas Dendam

Saya pernah sangat murka kepada Becayo, salah seorang anak rimba teman saya belajar di Sokola Rimba. Becayo, seperti kebanyakan anak-anak rimba lainnya, begitu mahir menggunakan ketapel. Bagi anak-anak rimba, memainkan ketapel adalah pelajaran paling mendasar untuk berburu. Bagaimana membidik sasaran tembak, juga membaca waktu-waktu lengah buruan dan jejak binatang buruan.

Sekali waktu saat senja usai belajar, Becayo mengajak saya pergi memecion (jalan menelusuri hutan mencari binatang buruan dengan senjata utama ketapel). Selain Becayo, Bedundang juga ikut menemani kami. Sepanjang perjalanan, Becayo betul-betul mempecundangi saya. Continue reading “Balas Dendam”

Menjadi Anak dengan Seperempat Darah Arab di Tubuh

Empat orang anak mengepung saya. Memukul saya menggunakan tas milik mereka. Saya berusaha melindungi diri sebisa mungkin. Kantung plastik berisi es kelapa muda yang saya beli di halaman sekolah, saya lemparkan ke arah salah seorang di antara mereka. Selanjutnya saya melepas tas yang saya gendong di punggung, menggunakannya untuk menghalau serangan dari keempat anak itu.

Awalnya mereka menyerang saya karena kelas mereka kalah saat bertanding sepak bola dengan kelas saya. Entah mengapa saya yang menjadi bulan-bulanan mereka. Padahal ada belasan anak lain dari kelas saya. Tak berapa lama akhirnya saya paham mengapa saya yang mereka incar. Sembari terus mencoba memukul saya, mereka berteriak, “Arab goblok!” “Dasar Onta.” “Idung panjang, idung pinokio, idung gede.” Dan beberapa ejekan lainnya. Continue reading “Menjadi Anak dengan Seperempat Darah Arab di Tubuh”

Kurma Abu Turab

Abu Turab tinggal di rumah sederhana bersama seorang istri dan dua orang anak lelakinya yang masih kecil. Tak ada kasur untuk tidur, kulit domba dijadikan alas untuk keluarga itu istirahat melepas lelah.

Sekali waktu di rumah tidak ada makanan sama sekali yang bisa di makan. Abu Turab berinisiatif untuk mencari makan di luar. Ia membawa serta kedua anaknya yang masih kecil, tujuannya agar sang anak tidak merengek ke ibunya saat lapar datang dan mereka minta makan sementara tak ada makanan sama sekali di rumah. Continue reading “Kurma Abu Turab”

Perkebunan Sawit dan Bencana Lingkungan yang Mengintai Papua

Pada periode kedua di tahun 2015 yang lalu, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan dilanda kabut asap yang cukup memprihatinkan. Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah menjadi lokasi yang terkena dampak paling parah. Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan perkebunan ini juga berdampak ke beberapa negara tetangga. Ketegangan antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara tetangga yang terkena dampak tak bisa dihindari. Tuntutan permintaan maaf dan penanganan kabut asap hingga tuntas terus didesak untuk segera dilakukan. Continue reading “Perkebunan Sawit dan Bencana Lingkungan yang Mengintai Papua”