Balas Dendam

Saya pernah sangat murka kepada Becayo, salah seorang anak rimba teman saya belajar di Sokola Rimba. Becayo, seperti kebanyakan anak-anak rimba lainnya, begitu mahir menggunakan ketapel. Bagi anak-anak rimba, memainkan ketapel adalah pelajaran paling mendasar untuk berburu. Bagaimana membidik sasaran tembak, juga membaca waktu-waktu lengah buruan dan jejak binatang buruan.

Sekali waktu saat senja usai belajar, Becayo mengajak saya pergi memecion (jalan menelusuri hutan mencari binatang buruan dengan senjata utama ketapel). Selain Becayo, Bedundang juga ikut menemani kami. Sepanjang perjalanan, Becayo betul-betul mempecundangi saya. Continue reading “Balas Dendam”

Menjadi Anak dengan Seperempat Darah Arab di Tubuh

Empat orang anak mengepung saya. Memukul saya menggunakan tas milik mereka. Saya berusaha melindungi diri sebisa mungkin. Kantung plastik berisi es kelapa muda yang saya beli di halaman sekolah, saya lemparkan ke arah salah seorang di antara mereka. Selanjutnya saya melepas tas yang saya gendong di punggung, menggunakannya untuk menghalau serangan dari keempat anak itu.

Awalnya mereka menyerang saya karena kelas mereka kalah saat bertanding sepak bola dengan kelas saya. Entah mengapa saya yang menjadi bulan-bulanan mereka. Padahal ada belasan anak lain dari kelas saya. Tak berapa lama akhirnya saya paham mengapa saya yang mereka incar. Sembari terus mencoba memukul saya, mereka berteriak, “Arab goblok!” “Dasar Onta.” “Idung panjang, idung pinokio, idung gede.” Dan beberapa ejekan lainnya. Continue reading “Menjadi Anak dengan Seperempat Darah Arab di Tubuh”

Kurma Abu Turab

Abu Turab tinggal di rumah sederhana bersama seorang istri dan dua orang anak lelakinya yang masih kecil. Tak ada kasur untuk tidur, kulit domba dijadikan alas untuk keluarga itu istirahat melepas lelah.

Sekali waktu di rumah tidak ada makanan sama sekali yang bisa di makan. Abu Turab berinisiatif untuk mencari makan di luar. Ia membawa serta kedua anaknya yang masih kecil, tujuannya agar sang anak tidak merengek ke ibunya saat lapar datang dan mereka minta makan sementara tak ada makanan sama sekali di rumah. Continue reading “Kurma Abu Turab”

Perkebunan Sawit dan Bencana Lingkungan yang Mengintai Papua

Pada periode kedua di tahun 2015 yang lalu, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan dilanda kabut asap yang cukup memprihatinkan. Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah menjadi lokasi yang terkena dampak paling parah. Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan perkebunan ini juga berdampak ke beberapa negara tetangga. Ketegangan antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara tetangga yang terkena dampak tak bisa dihindari. Tuntutan permintaan maaf dan penanganan kabut asap hingga tuntas terus didesak untuk segera dilakukan. Continue reading “Perkebunan Sawit dan Bencana Lingkungan yang Mengintai Papua”

Pasang Surut Komoditas Cengkeh di Aceh

Dalam ingatan para pemilik kebun cengkeh di Simeulue, peran pemerintah secara langsung pada perkebunan cengkeh terjadi pada akhir periode 60an. Saat itu Teungku Rasyidin, Wedana (pembantu bupati) yang ditugaskan di Simeulue mengeluarkan aturan yang mewajibkan setiap pemuda yang hendak menikah menanam setidaknya 25 batang cengkeh. Hukuman yang diberikan jika melanggar aturan ini tidak main-main, tidak akan dinikahkan dengan hukum nasional yang berlaku.

Tak hanya mengeluarkan peraturan progresif di bidang pertanian cengkeh, Teungku Rasyidin juga memberikan bantuan bibit cengkeh kepada pemuda yang hendak menikah dan terkena peraturan wajib menanam pohon. Selain itu, ia juga rutin memberikan bantuan bibit yang disebarkan ke seluruh Simeulue. Hasilnya, hingga saat ini Simeulue masih dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Provinsi Aceh. Continue reading “Pasang Surut Komoditas Cengkeh di Aceh”

Kursus Konservasi

Dengan suara parau, intonasi yang lambat namun jelas, lelaki paruh baya yang memiliki rambut putih lebih banyak dari rambut hitam di kepalanya itu berujar, “Sudah sejak zaman nenek moyang kami menjaga hutan kami. Hutan di tanah terban, tempelanai, pasoron, tanah perano’on dan subon hingga kini masih terjaga. Apalagi setelah hutan adat kami sepakati.”

Bepak Pengusai membakar rokok kreteknya. Duduk di lantai tanah bersandar ke dinding kayu. Kerut di wajahnya tergurat jelas, matanya menatap ke langit-langit rumah, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya, perkebunan sawit yang semakin mendesak ruang hidup Orang Rimba. Continue reading “Kursus Konservasi”

Kaum Hipokrit Pendukung Perjuangan Petani Kendeng

Saya terbakar amarah saat menuliskan ini. Marah, sungguh marah. Bukan marah karena sore tadi saya mau tak mau harus mengosongkan tabungan karena biaya rumah kontrakan hampir jatuh tempo. Sudah harus membayar, biaya kontrakan naik pula. Saya tidak marah karena hal itu sudah menjadi kewajiban. Rasa dongkol memang ada tetapi masih dalam tahap wajarlah.

Saya marah karena malam tadi, saat sebagian besar mata tertuju ke Jakarta mengikuti debat dan omong kosong pilkada, di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, para petani memasuki babak baru dalam perjuangan menolak pendirian pabrik semen di tanah mereka. Intimidasi dan tindak kekerasan kian gamblang terjadi. Tenda perjuangan dan musala yang dibangun warga tolak semen dibakar oleh sekelompok orang (menurut kronologi yang dikeluarkan situsweb omahkendeng.org, para pelaku adalah sekira 70 laki-laki yang beberapa di antaranya berseragam PT Semen Indonesia). Continue reading “Kaum Hipokrit Pendukung Perjuangan Petani Kendeng”

Bapak Angkat Saya Anggota Organisasi Papua Merdeka

Sore itu, hari ke lima saya tinggal seorang diri di rumah guru, dan hari kedua penyakit malaria menyerang tubuh. Sebelumnya saya sudah memelihara plasmodium vivax penyebab penyakit malaria tertiana sejak 2008. Di Papua, plasmodium yang bersemayam dalam tubuh bertambah, kali ini plasmodium yang membawa penyakit malaria bernama malaria tropicana.

Demam menyerang, kedinginan, tubuh menggigil. Saya menyelimuti seluruh tubuh. Tak berapa lama kondisi berubah. Panas terasa di sekujur tubuh, keringat kian deras bercucuran. Perut yang mual sebabkan saya memuntahkan isi perut berkali-kali. Segala yang masuk ke tubuh melalui mulut, kembali keluar dari mulut. Untuk sekadar air putih pun begitu. Betapa tersiksanya saya saat itu. Kalian yang merasa penderitaannya sudah sampai puncak hingga pada tahap mengenaskan karena status jomblo dan tak kunjung mendapat pasangan, hingga kemudian remuk redam dihantam kenangan, sebaiknya cobalah merasakan betapa menderitanya diserang malaria. Niscaya kalian akan sadar, bahwa penderitaan kalian belum ada seupil-upilnya penderitaan karena malaria. Continue reading “Bapak Angkat Saya Anggota Organisasi Papua Merdeka”

Siapa Sesungguhnya yang Primitif? Mereka atau Kalian?

Sejak bekerja di lembaga yang intensif memfasilitasi pendidikan bagi masyarakat adat 5 tahun lalu, kata “primitif” jadi sering saya dengar dan seringkali membuat panas telinga. Biasanya, kata “primitif” muncul ketika ada yang bertanya atau berkomentar tentang masyarakat tempat saya bertugas.

Beberapa pertanyaan yang sering saya terima antara lain sebagai berikut:

“Oh, kamu kerja jadi guru di pedalaman ya? Masih primitif dong murid dan masyarakatnya?”

“Di sana masih primitif banget ya, Waz?”

“Gimana rasanya tinggal bareng orang primitif, Waz?”

“Sulit nggak tuh tinggal bareng orang-orang primitif gitu?” Continue reading “Siapa Sesungguhnya yang Primitif? Mereka atau Kalian?”

Menjadi Guru yang Berpihak

The educator has the duty of not being neutral. —Paulo Freire

Sekali waktu, saat pertama kali bertugas di Sokola Asmat, Papua, saya memperkenalkan diri dengan singkat saja seperti ini: “Selamat pagi teman-teman, nama saya Fawaz, saya berasal dari Jakarta, ibu kota Indonesia. Mulai hari ini saya akan belajar bareng teman-teman di sini. Nama saya tadi Fawaz, ya. Teman-teman boleh panggil saya Fawaz, Faway, Pawas, atau apa saja sesuka teman-teman, tapi jangan panggil saya Pak Guru.”

Sesaat setelah saya selesai memperkenalkan diri, Tadius Bisaka, 6 tahun, langsung protes, “Ah, Pak Guru, itu tidak baik itu, tidak boleh itu. Jangan ajar buruk kita orang. Kamu kan guru, jadi kita orang harus panggil kamu Pak Guru.” Continue reading “Menjadi Guru yang Berpihak”