Panggilan Tugas

Di kamar kos berukuran tiga meter kali tiga meter, kertas- kertas penuh coretan berserakan di lantai, di meja, di atas kasur, dan di atas tumpukan pakaian kotor yang tak kunjung dicuci. Malam semakin larut saat saya sibuk dengan tugas akhir, menulis ulang skripsi yang siang tadi dicorat-coret dosen pembimbing. Rage Against The Machine keras menggema di seantero kamar melalui pintu hingga singgah di kamar-kamar kos lainnya.

Teh yang sudah dingin tersisa separuh di dalam gelas. Puntung dan abu rokok tercecer di meja dan lantai, bercampur dengan abu vulkanik Gunung Merapi yang masuk hingga kamar, abu vulkanik yang belum lama disemburkan Merapi yang kembali aktif usai empat tahun rehat. Saya mengambil gelas berisi teh, menyeruputnya perlahan, mengambil sebatang kretek, membakarnya, kemudian kembali larut di depan laptop, mengutak-atik tulisan skripsi yang harus diperbaiki.

Sistem pendingin reaktor nuklir, penurunan tekanan, konstanta Pauli, bilangan Reynold, pipa-pipa bersirip, aliran laminer dan turbulen, mekanika fluida, silih berganti datangkan penat. Ditulis, terus ditulis, kadang sama sekali tak dimengerti, namun tetap ditulis, karena harus, agar lekas lulus, agar segera selesai, karena waktu yang tersedia semakin sempit.

Waktu yang nisbi itu, malah kerap memburu, berubah mutlak syaratkan cepat, tepat dan akurat. Ketika diburu, saat terburu-buru, dibatasi waktu, yang teratur menjadi tak tentu. Begitulah, hingga Tuhan pun, menjadikan waktu sebagai salah satu sumpahnya dalam kitab suci, Demi Waktu. Jika Tuhan sudah bersumpah dengan sesuatu, artinya sesuatu itu penting, waktu salah satunya.

Telepon berdering, terdengar suara seorang perempuan berbicara, “Halo, betul ini Faway?”

“Iya, saya.”

“Faway, saya Dwi, ini saya di Bangko. Anak-anak minta saya menghubungi kamu. Kami sedang butuh guru baru, mereka meminta saya untuk mengajak kamu ikut mengajar di sini.”

“Maaf, anak-anak yang dimaksud siapa ya?”

“Oh iya, anak-anak rimba. Ini saya lagi sama mereka. Ini kamu langsung ngomong dengan Penguwar ya.”

Suara perempuan sebelumnya menghilang, berganti dengan suara seorang lelaki yang sudah cukup saya kenal, Penguwar.

“Guding (sapaan dalam bahasa rimba untuk sesama jenis, laki-laki kepada laki-laki, atau perempuan kepada perempuan), ini ake, Penguwar. Kawana sudah lulus? Kalau sudah, segera kontak Dodi, kawana kema’e, kamia butuh volunter baru.” Penguwar sudah cukup fasih menyebut istilah volunter.

“Hampir guding, kalau tidak lulus sarjana, ya segera lulus dipaksa. Aman, bos.”

“Engkah (kenapa, bahasa rimba) lulus dipaksa?”

“Biar nggak penuh-penuhin kampus.”

“Oooo, okelah. Itu lebih baik. Kawana memang harus dipaksa, baik begitu.”

“Berengsek!!!” Saya membatin.

Telepon ditutup, malam kian larut. Rasa lapar mulai menyerang. Saya bergegas mencari warung makan terdekat, memesan mie rebus dengan telur goreng. Sembari menyantap mie rebus dengan telur goreng, pikiran saya berkecamuk antara rektor nuklir, sistem pendingin reaktor, perubahan tekanan, hilangnya daya, hukum-hukum termodinamika, Jambi, hutan, kebun karet, kebun sawit, belajar membaca dan berhitung, nyamuk, penyakit malaria, Orang Rimba, desa transmigran, betapa menyebalkannya kota Bangko, hingga tak terasa, mie rebus dengan telur goreng habis, padahal saya masih ingin, belum puas, namun uang semakin terbatas.

Telepon kembali berdering, dari nomor yang sama. Kali ini, langsung Penguwar yang bicara. “Guding, kata Dwi, lulus dipaksa itu namanya DO, betul begitu?”

“Nah itu, iya, betul guding.”

“Nah begitu dong, itu baru hebat, itu baru kantike (temanku).”

“Jembvvvtttt!!!”

***

Peristiwa di atas terjadi pada penghujung tahun 2010. Sebelum peristiwa itu, tiga kali saya sudah berkunjung ke komunitas Orang Rimba Makekal Hulu, tempat Sokola Rimba menjalankan program. Dua pekan setelah peristiwa itu, saya lulus kuliah, lantas berangkat bertugas di Sokola Rimba, Jambi.

#SeriSokolaRimba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *