Menuju Bangko

Tubuh saya lelah, kantuk semakin berat terasa. Semestinya enam jam perjalanan darat menumpang minibus bisa saya manfaatkan untuk rehat. Tetapi nyatanya tidak bisa. Sopir minibus travel yang saya tumpangi menjadi musabab. Ia memutar musik dalam minibus dengan volume maksimal. Saya tidak paham genre musik apa yang sedang Ia putar. Yang jelas, suara musik yang Ia putar membikin jantung saya berdetak lebih kencang dan seperti mengikuti irama musik jedagjedug dari pengeras suara dalam minibus. Rasa lelah dan kantuk saya kalah telak oleh musik yang diputar sopir.

Kecuali saya, tak ada penumpang lain yang protes dengan volume musik yang diputar dalam minibus. Alhasil, protes saya dianggap angin lalu saja. Pada usaha protes yang kedua, penumpang lain bahkan memandang saya dengan pandangan keheranan. Sopir yang saya protes hanya berujar sinis, “baru pertama kali ke Jambi nih, Bang!” Akhirnya, sepanjang perjalanan Jambi-Bangko, sembari menahan rasa kantuk saya memandang ke arah luar. Melihat apa saja yang bisa terlihat dari dalam mobil di malam hari, dengan kebanyakan pemandangan yang saya lihat, gelap gulita semata.

Malam sebelum berada dalam minibus celaka itu, saya asyik mengemas beberapa lembar pakaian, laptop, beberapa eksemplar buku, lampu senter, kantung tidur, kain sarung, handuk, topi, kaus kaki, selembar foto Umi dan Abah yang saya afdruk pada ukuran 4R, kompor lapangan, panadol, diapet, counterpain, bioplacenton, minyak kayu putih, tolak angin, buku tulis dan pena, beberapa oleh-oleh untuk anak-anak Rimba, dan surat-surat penting ke dalam dua buah tas bervolume 80 liter dan 25 liter. Saya mulai mengemas seluruh perlengkapan itu jelang dini hari. Prosesi pengemasan selesai tak lama setelah muadzin masjid kampung tempat saya tinggal di Rawabelong selesai mengumandangkan adzan.

Nasi uduk semur tahu dan bergelas teh manis panas sudah terhidang di meja makan. Saya makan bersama Umi. Kakak dan adik saya masih sibuk dengan urusan mereka di kamar masing-masing. Abah belum pulang dari masjid. Sembari menyodorkan semur tahu ke arah piring makan saya, Umi bilang, “kalau urusan ngajar, Umi yakin elu bisa, Waz. Jadi Umi kagak perlu bilang ape-ape lagi. Pesen Umi sih satu aje, kagak aneh-aneh, salat jangan ditinggal, dan baek-baek sama orang lain. Cukup!”

Usai makan dan berbincang sebentar dengan Umi perihal rencana keberangkatan saya ke Jambi, mengendarai sepeda motor, saya mengantar Umi ke sekolah dasar tempat Ia mengajar mata pelajaran Agama Islam setidaknya selama 24 tahun penuh.

Usai mengantar Umi, saya tidak langsung pulang. Saya berkunjung ke rumah Jidah (nenek), Ibu dari Umi saya. Menemani Jidah sarapan, berbincang ngalor-ngidul, dan yang utama, pamit untuk berangkat tugas. Hingga jelang zuhur saya di rumah Jidah.

Dari obrolan panjang saya dengan Jidah pagi hingga siang itu, satu yang terus-menerus saya ingat dari cerita Jidah, mengenai pengalamannya ketika usianya berada pada peralihan remaja menuju dewasa. Kala itu Jepang belum lama datang ke Nusantara. Seluruh wilayah Nusantara yang sebelumnya di bawah kekuasaan penjajah Belanda, telah beralih ke Jepang.

Jepang yang sebelumnya datang dengan kamuflase sebagai saudara dan pembebas Nusantara dari penjajahan, mulai menampakkan wajah dan watak aslinya. Sumber daya alam masuk ke satu pintu dan dikontrol ketat. Sandang dan pangan kian hari kian krisis. Apa yang bisa dimakan, dimakan saja tanpa perlu pertimbangan gizi, jika tidak, kelaparan ancamannya. Karung-karung goni yang sebelumnya untuk wadah komoditas tertentu, berubah fungsi jadi pakaian karena keterbatasan bahan baku akibat monopoli Jepang guna kebutuhan perang.

Rawabelong, tempat Jidah tinggal, tak luput dari ancaman kelaparan. Kala itu, di daerah Tanjung Priok, tak jauh dari pelabuhan, ada pendatang dari Hadramaut, Yaman, yang berhasil menyelundupkan beras masuk ke Jakarta. Sayangnya, beras itu hanya mentok sebatas Tanjung Priok, tak bisa didistribusikan ke di sekitar Jakarta karena ketatnya penjagaan Jepang. Jika memaksa mendistribusikan beras-beras itu, risiko ketahuan besar dan ancaman hukuman mati mengintai.

Ketika bencana kelaparan kian menyebar di seantero Rawabelong, Jidah bersama belasan perempuan seusianya bergerak menuju Tanjung Priok. Mereka tentu saja jalan kaki. Sesampainya di Priok, mereka membungkus beras-beras itu sedemikian rupa kemudian mereka simpan di perut. Beras-beras itu berkamuflase janin yang sedang ada dalam kandungan. Setelahnya, mereka berpencar, maksimal tiga orang tiap rombongan, memilih jalur yang berbeda untuk pulang ke Rawabelong. Perkiraan Jidah, ada sekira tujuh atau delapan kelompok kecil yang berpisah untuk bisa kembali berkumpul di Rawabelong. Dari tujuh atau delapan rombong kecil yang berpisah itu, satu rombong tidak kembali. Hilang. Dan hingga hari ini tidak diketahui di mana mereka hilang, dan bagaimana nasib mereka selanjutnya.

“Dulu gue kagak sekolah, Waz, cuman ngaji aje di madrasah. Gue tiga kali daftar sekolah, kagak pernah diterima. Badan gue kecil, tangan gue pendek, dulu tes masuk sekolahnye ntu tangan kanan kudu bisa pegang kuping kiri lewat atas pala kite.” Ujar Jidah menerangkan, kemudiam Ia melanjutkan, “gue ye kage nyangka, anak cucu gue malah banyak yang jadi guru. Anak perempuan gue, empat-empatnye, jadi guru, ada yang sampe jadi kepala sekolah malah. Umi lu juga kudunye jadi kepala sekolah, die aje ogah. Ditolak ame die. Eh sekarang elu, cucu gue, ikutan jadi guru. Pamit mau ngajar di Jambi, nyeberang laut. Baek-baek dah di kampung orang. Solat jangan ditinggal, ngaji disempetin. Jangan bikin masalah ame orang laen.” Jidah memang asli betawi. Kesehariannya, tentu saja berbahasa dan berlogat betawi, betawi Rawabelong.

Usai makan siang bersama Jidah, saya pulang lantas tidur. Belum genap dua jam, saya terjaga. Memasuki sore, saya sudah melamun di salah satu terminal bandara Soekarno-Hatta, mengisi waktu luang menunggu keberangkatan pesawat menuju Jambi. Ini terjadi pada Selasa, 9 Maret 2010. Hari yang semestinya menyenangkan, namun dirusak di kedua perjalanan menuju lokasi program Sokola Rimba oleh ulah sopir travel Jambi-Bangko yang saya tumpangi.

Jam enam petang, di bandara Sultan Thaha, Jambi, saya dijemput mobil minibus dari perusahaan travel yang sebelumnya sudah saya pesan untuk mengantar saya dari Jambi ke Bangko. Sopir yang menjemput, menyerahkan selembar tiket untuk saya. Saya mengganti selembar tiket itu dengan beberapa lembar uang pecahan dua puluhan ribu. Saya lupa persisnya berapa ongkos travel Jambi-Bangko ketika itu.

Sopir yang menjemput saya di bandara, cukup ramah. Ia mengajak saya berbincang dengan pertanyaan pembuka tentang tujuan saya berkunjung ke Bangko. Saya sedang lelah, sehingga malas jika mesti berbincang serius perihal Orang Rimba, Sokola Rimba, dan turunan-turunannya, jadi saya jawab singkat saja, “jalan-jalan, Bang.” Jawaban saya itu membikin Ia menyalahkan saya. Karena menurutnya, untuk apa jalan-jalan dari Jakarta jauh-jauh ke Bangko. Di Bangko tidak ada apa-apa yang menarik untuk wisata. Ia lantas memberi rekomendasi banyak tempat di Jambi dan semuanya di luar Bangko yang menurut dia lebih baik saya kunjungi jika saya hendak jalan-jalan.

Sembari menjemput penumpang-penumpang lain di seantero Jambi, saya berbincang banyak dengan Pak Sopir itu. Kami sudah mulai akrab dan asyik berbincang. Hingga jelang jam delapan malam, kami tiba di garasi perusahaan travel yang akan mengantar saya ke Bangko. Berpindah mobil dan mesti duduk sesuai nomor yang tertera di tiket, dan dengan sopir yang juga berbeda.

Rabu dini hari, jelang jam 2, minibus yang saya tumpangi tiba di Lorong Perintis, kota Bangko. Ia berhenti di depan rumah beton beratap seng dengan lantai kayu berhalaman luas di tepi lorong. Cat dinding berwarna cokelat gelap bergambar lambang dan tulisan Sokola Rimba menyambut saya ketika saya turun dari minibus sialan itu. Mendengar suara mesin minibus berbunyi di halaman rumah, anak-anak Rimba yang menunggu kedatangan saya di kantor Sokola Rimba Bangko berhamburan ke luar rumah. Ada Berapit, Beranya, Melancar, Nihang Bujang, dan tentu saja, Penguwar. Beconteng, Pengendum, dan Mijak, sudah tertidur ketika saya tiba.

Lama tak berjumpa, kami tentu saja saling bertukar kabar dan berbagi cerita. Di Bangko, ramai anak-anak Rimba karena ketika itu sedang musim ‘besebodo’, musim berburu sejenis kura-kura air tawar yang dalam bahasa Rimba disebut sebodo. Saya tak tahu hewan itu dalam bahasa Indonesia apa namanya, bukan bulus, bukan juga kura-kura. Anak-anak Rimba yang menyambut saya, bercerita bagaimana keseruan mereka besebodo hingga jauh ke arah Bangko, ke sungai-sungai yang ada di sekitaran kota Bangko. Sebagai ganti, saya bercerita tentang aktivitas saya sebelum tiba di Bangko, cerita tentang meletusnya Gunung Merapi beberapa waktu sebelumnya. Hingga hari terang kami berbincang, ditemani bergelas-gelas kopi dan berbatang-batang rokok kretek. Hingga akhirnya saya tak kuat lagi dan pamit hendak tidur. Mereka yang berbincang saya hingga hari terang, tidak memilih tidur seperti saya. Mereka bergegas berangkat untuk besebodo. Binatang yang tidak di makan kebanyakan kaum laki-laki Rimba, tetapi hobi diburu oleh mereka, karena binatang itu adalah salah satu mas kawin favorit yang diminta keluarga pihak perempuan dari calon pengantin pria rimba. Maka di rimba, sebodo yang menurut saya rasanya enak itu, disebut juga ‘pemakonon betina’.

#SeriSokolaRimba

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *