Menuju Bangko

Tubuh saya lelah, kantuk semakin berat terasa. Semestinya enam jam perjalanan darat menumpang minibus bisa saya manfaatkan untuk rehat. Tetapi nyatanya tidak bisa. Sopir minibus travel yang saya tumpangi menjadi musabab. Ia memutar musik dalam minibus dengan volume maksimal. Saya tidak paham genre musik apa yang sedang Ia putar. Yang jelas, suara musik yang Ia putar membikin jantung saya berdetak lebih kencang dan seperti mengikuti irama musik jedagjedug dari pengeras suara dalam minibus. Rasa lelah dan kantuk saya kalah telak oleh musik yang diputar sopir.

Continue reading “Menuju Bangko”

Panggilan Tugas

Di kamar kos berukuran tiga meter kali tiga meter, kertas- kertas penuh coretan berserakan di lantai, di meja, di atas kasur, dan di atas tumpukan pakaian kotor yang tak kunjung dicuci. Malam semakin larut saat saya sibuk dengan tugas akhir, menulis ulang skripsi yang siang tadi dicorat-coret dosen pembimbing. Rage Against The Machine keras menggema di seantero kamar melalui pintu hingga singgah di kamar-kamar kos lainnya.

Teh yang sudah dingin tersisa separuh di dalam gelas. Puntung dan abu rokok tercecer di meja dan lantai, bercampur dengan abu vulkanik Gunung Merapi yang masuk hingga kamar, abu vulkanik yang belum lama disemburkan Merapi yang kembali aktif usai empat tahun rehat. Saya mengambil gelas berisi teh, menyeruputnya perlahan, mengambil sebatang kretek, membakarnya, kemudian kembali larut di depan laptop, mengutak-atik tulisan skripsi yang harus diperbaiki. Continue reading “Panggilan Tugas”