Umi Mengajak Saya Mandi Hujan

Saya banyak menyimpan kenangan pada peristiwa hujan. Kenangan-kenangan itu, muncul lebih kuat ketika hujan kembali turun. Seperti beberapa hari belakangan ketika hujan hampir setiap hari di wilayah Yogya misalnya, saya kembali mengenang peristiwa mandi hujan bersama Umi saya di Rawabelong, barat Jakarta.

Seingat saya, ketika itu saya masih sekolah SD, antara kelas empat dan kelas lima, saya lupa persisnya. Di penghujung tahun, seperti sekarang ini, musim hujan sedang pada puncaknya. Pada suatu hari selepas ashar, hujan turun begitu lebat, saya bersama teman-teman seusia di rumah, pergi mandi hujan.

Kami bermain bola di jalanan, lalu bermain seluncuran di halaman sebuah rumah yang tidak berpenghuni, lalu kami jalan-jalan keliling kampung, semuanya sembari mandi hujan. Hingga akhirnya sore hampir usai, saya melintasi sebuah bangunan sekolah tempat Umi mengajar. Bangunan sekolah itu, letaknya sekira satu kilometer dari rumah kami.

Saya sengaja berjalan paling belakang. Dari luar pagar, saya melihat ke arah dalam sekolah. Ada dua orang pengawas sekolah di luar. Saya lantas teriak kepada mereka, “Pak, Bu Zubaidah sudah pulang?”

“Eh, Fawaz, mandi ujan kamu?” Tanya salah seorang dari mereka, lantas melanjutkan, “belom, ada tuh di ruang guru.”

Saya bergegas ke arah gerbanh sekolah, membuka gerbang, lalu masuk menuju ruang guru. Dari depan pintu, saya memanggil Umi. Di luar, hujan turun masih cukup deras. Umi terkejut melihat saya ada di sekolah tempat Ia mengajar. Pada hari-hari biasa, mengendarai sepeda motor Abah biasa menjemput Umi sepulang Umi mengajar. Karena hujan, Abah menunda berangkat.

“Ngape sampe sore banget lu mandi ujan, Waz?” Tanya Umi. Belum sempat saya jawab, Umi melanjutkan, “Kalo gitu ayo kite pulang aje dah, Waz. Tungguin Umi nyari plastik buat dompet Umi, tas mah simpen di sekolah aje”

Umi memang jarang melarang saya mandi hujan. Ia malah lebih sering mengizinkan. Jika melarang, di saat-saat tertentu saja. Semisal di musim ujian sekolah atau saat hujan terlalu lebat dan bercampur petir.

Bukan sekali dua saya pernah mandi hujan bersama Umi. Tapi peristiwa mandi hujan disengaja dalam perjalanan dari sekolah Umi ke rumah kami, itu pengalaman pertama kami. Ingatan tentang itu sangat membekas di kepala. Sulit saya lupa. Dan memang untuk apa dilupakan. Malah saya hendak mempertahankan ingatan itu, terus menerus, hingga kelak saya ceritakan kepada anak-anak saya sembari kami mandi hujan bersama.

Dalam perjalanan dari sekolah ke rumah sembari mandi hujan, saya dan Umi berbincang banyak hal. Mulanya, Umi mengabsen satu per satu anak-anaknya di rumah. Ia bertanya kepada saya ketika saya meninggalkan rumah, kakak dan adik saya apakah ada di rumah. “Tadi sih pada mandi ujan, Mi, tapi cuma di deket rumah. Fawaz aje yang jalan-jalan ame temen-temen tadi.” Jawab saya.

Selanjutnya Umi lebih banyak bercerita, saya fokus mendengar sembari sesekali menanggapi singkat atau bertanya lebih singkat lagi. Saya senang mendengar Umi bercerita, begitu juga semua saudara saya. Jika Umi sudah bercerita, kami semua akan fokus mendengarkan. Ngakak, pasti Umi selalu berhasil membikin kami semua ngakak.

Dalam perjalanan, Umi sengaja berbelok, memilih jalan yang lebih jauh dibanding jalan terdekat yang biasanya Ia lalui jika sedang ingin pulang jalan kaki. Ia lebih banyak bercerita lagi. Tentang nabi-nabi, tentang dasar-dasar agama yang mesti saya pahami, tentang apa itu toleransi yang paling sederhana sekalipun yang bisa anak seusia saya terapkan, dan banyak hal lainnya. Meskipun tema cerita Umi sangat serius, Umi tetap bisa membikin saya tertawa ketika itu. Tertawa sembari menikmati hujan menyentuh tubuh saya, kadang air hujan itu masuk ke mulut saya karena terlalu keras tertawa.

Mendengar Umi bercerita dengan latar suara hujan yang turun menerpa atap rumah, dedaunan, jalan beraspal, dan apa saja yang ada di bumi sekitaran kami, sungguh membikin saya senang. Saya ingin hujan turun lebih lama lagi, bisa mandi hujan bersama Umi sembari mendengar Ia bercerita, lagi dan lagi, hingga akhirnya semua itu harus disudahi karena kami sudah sampai rumah.

Umi meminta saya lekas mandi. Selesai mandi, Umi sudah menyiapkan dua gelas teh panas, tiga gelas susu putih, dan dua gelas ovalitine untuk kami sekeluarga. Azan maghrib membubarkan kami sejenak. Selepas maghrib, Umi melanjutkan cerita, kali ini bukan hanya saya pendengarnya, ada dua orang kakak saya dan dua orang adik saya.

Umi bercerita tentang Ibu dan Abahnya, tentang Jidah dan Kakeknya, dan tentang kehidupannya semasa kecil hingga remaja. Sering malam-malam kami, kami habiskan dengan mendengar cerita dari Umi sebelum akhirnya kami kesal karena Umi menyudahi ceritanya lantas menyuruh kami belajar. Di masa seperti itu, saya merasa sekolah menjadi pengganggu. PR-PR (Pekerjaan Rumah) menumpuk yang diberikan membikin saya kesal dengan sekolah karena Umi harus menghentikan ceritanya. Untuk disambung lagi di malam-malam lainnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *