Rudolph dan Mesin Diesel

“Pemakaian minyak nabati untuk bahan bakar mesin mungkin belum terlihat penting saat ini, namun seiring berjalan waktu minyak ini akan menjadi sepenting minyak bumi dan batu bara pada masa sekarang.” Rudolph Diesel.

Lahir di Paris dengan nama Rudolph Christian Karl Diesel Diesel (selanjutnya ditulis Diesel saja) pada 18 Maret 1858, Diesel dikenal sebagai pria berkebangsaan Jerman penemu mesin diesel. Namanya kini abadi dan terus disebut jika kita membicarakan mesin yang kini dipahami khalayak berbahan bakar solar.

Jauh sebelum diketahui dan identik dengan mesin berbahan bakar solar, mesin diesel pertama-tama ditemukan oleh Diesel dioperasikan dengan bahan bakar biodiesel berbahan baku minyak nabati.

Proses pembuatan senyawa-senyawa ester –dikenal dengan istilah transesterifikasi– dari minyak nabati sudah dilakukan sejak pertengahan abad 19. Awalnya, minyak nabati yang dapat dijadikan bahan bakar ini adalah produk sampingan dari pembuatan gliserin untuk bahan baku sabun. Produk bahan bakar nabati berumur singkat usai ditemukannya bahan bakar fosil yang hingga kini masih menjadi primadona.

Adalah methyl dan ethyl ester, produk sampingan dari proses penyulingan untuk mendapatkan gliserin. Biodiesel mengandung kedua jenis ester ini. Pada masanya, semua jenis asam lemak nabati bisa digunakan untuk membuat gliserin dan biodiesel sebagai produk sampingannya. Minyak dari kacang-kacangan, biji ganja, jagung, dan gandum menjadi bahan baku utama produksi gliserin dan biodiesel. Saat ini, ketika biodiesel kembali diproduksi, biji jarak, jagung, dan kedelai digunakan sebagai sumber untuk bahan baku biodiesel.

Pada 27 Februari 1892, untuk kali pertama Diesel mendaftarkan metode dan desain mesinnya di kantor paten Jerman. Setahun kemudian, model mesin pertama berhasil diujicobakan dengan efisiensi bahan bakar mencapai 26 persen. Efisiensi yang cukup tinggi pada masanya. Karena mesin uap pada saat itu efisiensinya separuh dari temuan Diesel ini. Berdasar siklus Carnot, hingga kini sepertinya belum ada mesin yang bisa beroperasi dengan efisiensi bahan bakar lebih dari 50 persen (koreksi jika saya salah dan sudah ada penemuan mesin baru dengan efisiensi di atas 50 persen).

Lima tahun kemudian, pada 1898, Diesel berhasil mengembangkan mesinnya dengan efisiensi bahan bakar mencapai 75 persen. Ini brilian. Dan tentu saja bahan bakar yang digunakan masih biodiesel dengan bahan baku utama biji ganja dan kacang-kacangan.

Sebelum saya lanjutkan tulisan tentang Diesel ini, ada baiknya sedikit saya jelaskan tentang efisiensi bahan bakar. Jika tertulis efisiensi bahan bakar 20 persen, itu artinya, sesungguhnya hanya 20 persen saja bahan bakar yang berfungsi menggerakkan mesin, sisanya 80 persen lainnya terbuang dalam bentuk energi panas dan emisi yang dikeluarkan mesin. Dengan kata lain, karena proses pembakaran, tak akan pernah ada efisiensi 100 persen, sedang umumnya mesin-mesin yang ada sekarang efisiensinya kurang dari 50 persen.

Ketika pertama kali mendemonstrasikan mesin temuannya di World Exhibition, Paris, Diesel menggunakan biodiesel berbahan baku kacang tanah. Melalui kajian mendalamnya, Ia meyakini ke depan, biji ganja paling efektif dan potensial sebagai bahan baku biodiesel. Ini pula yang memaksanya mengambil keputusan penting, membawa rancang mesinnya ke benua Amerika, tempat pertanian ganja marak ketika itu.

Sayangnya impian besar Diesel musnah di lautan dalam perjalanannya menuju benua Amerika. Pada 30 September 1913, Diesel hilang secara misterius bersama impian besarnya. Dugaan paling kuat, investasi besar-besaran oleh para pemodal untuk energi berbahan fosil yang menjadi sebab nasib buruk dialami Diesel.

Selepas 1920, saat ganja perlahan dibenci penduduk bumi –berbeda dengan masa sebelumnya ketika produk-produk olahan ganja berperan penting dalam peradaban manusia– ilmuwan lain merusak rancang mesin diesel hingga membuatnya harus menggunakan residu (sisa-sisa) produk bahan bakar minyak yang lebih dikenal dengan nama solar. Kode mesin diesel temuan Diesel kemudian berubah menjadi Diesel#2.

Saat ini, narasi-narasi energi ramah lingkungan keras disuarakan. Ada dua alasan utama mengapa ini terjadi: energi fosil yang bisa sewaktu-waktu habis dan emisi bahan bakar fosil yang menyebabkan bermacam bencana di bumi. Dengan mempertimbangkan konflik lahan dan terutama konflik pangan, masa depan biodiesel sesungguhnya ada pada biji ganja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *