Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin

Usai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut.

Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, mdmbakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, “Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?”

Di kampung, tak ada yang tahu usia Mbah Gimin. Saat saya tanyakan langsung usianya, Mbah Gimin menjawab, “Mbuh, Le!” Lantas tertawa. Saya ikut tertawa. Sejak pertama kali berjumpa dengan Mbah Gimin sekira empat tahun lalu, Mbah Gimin tak pernah lepas dari ritual melinting tembakau. Slepennya juga yang itu-itu saja, tak pernah berganti. Jika ada yang berubah dari ritual melinting rokok Mbah Gimin, itu adalah hilangnya kemenyan dari racikan tembakau tingwe miliknya. Hilangnya kemenyan terjadi usai Lala, istri saya, protes kepada Mbah Gimin karena bagi Lala, aroma rokok tingwe bercampur kemenyan milik Mbah Gimin menimbulkan suasana horor dan menyeramkan.

Sepengetahuan saya, Mbah Gimin orang paling sepuh di kampung, beberapa warga yang menginformasikan hal itu. Seluruh rambutnya sudah memutih. Sehari-hari, penampilannya selalu sama, berkemeja berwarna lusuh, dengan kain sarung yang selalu menutup bagian pinggang hingga betis. Mbah Gimin masih rutin bekerja di sawah. Menanam padi di musim tanam padi, dan palawija di musim lainnya. Ia juga masih ngarit, mencari rumput untuk makan dua ekor kambing peliharaannya.

“Kabar saya baik, Mbah. Rasanya punya anak? Ya senang, Mbah. Tapi ada juga banyak ketakutan yang datang dan kekhawatiran yang timbul setelah saya punya anak.”

Sepanjang empat tahun tinggal di kampung ini, dengan Mbah Gimin saya paling sering berbincang di luar dengan Pak RT yang juga pemilik rumah yang saya sewa selama empat tahun belakangan. Sekali dua kami berbincang di halaman masjid kampung, pernah juga di sawah yang sedang ia garap, paling sering, di halaman rumah saya, seperti beberapa malam lalu ketika Jogja sedang panas-panasnya padahal semestinya ini puncak musim hujan.

Kami berbincang perihal apa saja. Yang paling sering, tentang kampung tempat kami tinggal dan keseharian Mbah Gimin di masa lampau hingga kini. Sekali dua, Mbah Gimin juga kerap mengantar hasil bumi ke rumah saya. Beras, ketela, cabai, dan beberapa jenis sayur yang Ia tanam.

Mbah Gimin hidup seorang diri di kampung. Dua orang istrinya sudah lama meninggal. Tidak, Mbah Gimin tidak poligami. Mbah Gimin menikah enam tahun usai istri pertamanya meninggal. Tiga tahun kemudian, istri keduanya meninggal dunia. Bersama istri pertama, lahir dua orang anak, keduanya tinggal bersama suami mereka di luar kampung. Satu di Gunung Kidul, satu lagi di Klaten. Dengan istri kedua, tidak ada anak.

“Wajar itu. Senang ya wajar. Takut dan khawatir ya wajar. Jadi ya tenang saja. Apalagi ini anak pertamakan. Wajar.” Ujar Mbah Gimin, lantas mengisap rokok tingwe lalu menghembuskan asap dengan santai dari mulut dan hidung.

“Mbah sejak kapan merokok tingwe?”

“Wah, sudah lama. Ya sejak mulai merokok.”

“Nggak pernah coba rokok pabrikan?”

“Sesekali pernah. Tapi rasanya nggak ada yang pas.”

Beberapa waktu belakangan, rokok tingwe kembali populer. Setelah sebelumnya dicap sebagai selera kolot, kini banyak anak muda yang menjadikan rokok tingwe sebagai keseharian gaya hidup, meninggalkan rokok pabrikan yang banyak beredar di pasaran. Lebih lagi usai harga rokok naik setelah cukai rokok dikerek naik dengan drastis oleh pemerintah. Membicarakan rokok tingwe, tentu saja saya teringat Mbah Gimin yang lama bersetia pada rokok tingwe.

Ketika saya menginformasikan perihal kembali semaraknya orang-orang memilih rokok tingwe, dan menjadikan itu sebagai protes perlawanan akibat kenaikan cukai dan kenaikan harga rokok pabrikan, Mbah Gimin tersenyum, kemudian berujar, “Mungkin itu untuk kebaikan pemerintah, jadi rokok harganya naik. Ya moga-moga petani juga dapat untung dari situ.”

Komentar Mbah Gimin mengingatkan saya pada buku karya James C. Scott berjudul Weapon of the Weak. Dari James C. Scott itulah kemudian muncul teori perlawanan kaum tani yang kerap disebut teori Scottian. Melawan meskipun kalah. Melawan dengan cara khas petani. Main belakang, seakan mengiyakan dan menyetujui, tetapi diam-diam melawan.

Selain kasus cukai rokok ini, perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin juga sudah saya dengar kemasyhurannya jauh-jauh hari, lewat perlawanan Mbah Gimin terhadap maraknya investasi di kampung yang mengubah lahan pertanian menjadi perumahan-perumahan kluster. Ia tak melawan secara frontal, tidak juga menyalahkan petani lain yang melepas lahannya untuk dibeli pemborong perumahan.

Ia tak berkomentar pedas akan hal itu. Lebih memilih diam dan terkesan menyetujui maraknya penjualan tanah di kampung. Namun, Ia tetap melawan secara mandiri, dengan tidak mau menjual lahan pertaniannya meskipun berkali-kali dirayu investor dengan harga mahal karena lokasinya strategis. Ia juga menyabotase akses masuk ke lokasi perumahan yang jika lewat lahan miliknya, lebih strategis dan mudah terakses. Namun karena perlawanannya dengan cara tak mau menjual lahan miliknya meskipun sedikit saja untuk jalan, akses jalan menuju perumahan itu harus sedikit memutar. Perlawanan khas Scottian.

Saya kira, apa yang dilakukan Mbah Gimin, patut pula dicontoh untuk gerakan melawan kenaikan harga rokok. Ya sudah, mau apa lagi, terima saja dulu, biar saja. Tapi kita cukupkan saja dengan persetujuan itu, cukup. Tidak usah beli rokok lagi, dan bersetia pada tingwe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *