Kangkung dan Sawi

Tak ada yang tahu dari mana Kangkung dan Sawi berasal. Yang orang tahu, Kangkung dan Sawi dibawa oleh anak-anak Dusun Tambakrejo ke Omah Pari. Mereka membawa Kangkung dan Sawi masih di dalam karung plastik berwarna putih yang biasa digunakan untuk menampung beras. Maka jika saya tanya ke Ipul, pengelola Omah Pari, dari mana Kangkung dan Sawi berasal, Ipul menjawab, “inilah yang disebut kucing dalam karung, Was!” Ia lantas tertawa.

Kangkung dan Sawi adalah dua ekor anak kucing, kali pertama saya melihatnya di Omah Pari sekira 18 bulan lalu. Ipul yang memberi nama kedua anak kucing itu dengan nama sayuran, Kangkung dan Sawi.

Saat ditemukan, kedua anak kucing itu dalam keadaan sehat namun tidak sempurna. Kangkung, mata kirinya cedera, selaput matanya tidak terbuka sempurna. Hingga kini. Mata kirinya tidak berfungsi dengan sempurna. Sawi ekornya dipotong. Hampir habis. Jika kita melihat Sawi dari jauh, ia seperti tidak memiliki ekor. Saya menduga, orang jahat yang mungkin memasukkan kedua anak kucing itu ke dalam karung lantas membuangnya di tepi jalan itulah yang juga memotong ekor Sawi.

Kangkung dan Sawi berkelamin jantan. Bulu-bulu di sekujur tubuhnya berwarna hitam dan putih. Yang membedakan keduanya selain mata yang cedera dan ekor yang terpotong, adalah dengan melihat kombinasi warna hitam-putih pada bulu di tubuhnya.

Kangkung memiliki bulu hitam dan putih yang terpisah pada tubuhnya. Di mana bulu hitam dan bulu putih, menggerombol pada tempat-tempat tertentu. Mirip seperti kombinasi hitam dan putih pada anjing dalmation. Sedang Sawi, bulu hitam dan putih pada tubuhnya saling silang membentuk pola yang unik, sehingga jika kita lihat sekilas saja, ada warna lain selain hitam dan putih pada tubuhnya karena posisi bulu hitam dan putih yang seolah berantakan dan tak beraturan.

Jika Anda berkunjung ke Omah Pari, Kangkung dan Sawi akan segera menyambut kedatangan Anda di sana. Mereka berlari mendekat, dan coba berusaha akrab dengan orang-orang yang baru datang. Jika pulang, mereka juga biasanya akan mengantar hingga tempat sepeda motor diparkir.

Jika nama adalah doa, begitu juga yang saya perhatikan dari Kangkung dan Sawi. Sifat-sifat keseharian mereka ada kemiripan dengan sayur kangkung dan sawi. Setidaknya begitu pengamatan saya.

Kangkung, seperti sayur kangkung yang mudah tumbuh di banyak tempat dan gampang menyesuaikan diri. Ia begitu lincah, menjelajah ke seantero Omah Pari dan sekitarnya seluas sekira 7500 meter persegi. Kangkung juga tidak pilih-pilih dalam urusan makan. Ia memakan apa saja yang Ia suka dan terutama yang tersedia. Sekali waktu saya pernah memergoki Kangkung sedang asyik menyantap biji-biji buah melon yang masih berlendir karena baru dikeluarkan dari buahnya.

Kangkung juga cukup tertib dan gampang jika diberi tahu sesuatu, untuk tidak naik ke meja makan dan mencuri makanan di atas meja makan misal. Ia juga bisa tidur di mana saja, yang penting nyaman dan tidak terkena air jika hujan turun.

Jiwa kepemimpinan Kangkung lebih terlihat dibanding Sawi. Jika ada kucing jantan lain datang ke lokasi Omah Pari dan berjumpa Kangkung pertama kali, Kangkung akan sigap bertarung menjaga wilayah kekuasaannya, meskipun seringkali kucing yang datang lebih besar. Kangkung tak gentar. Ia berani hadapi kucing itu. Sementara Sawi, asyik saja menonton sembari malas-malasan. Sebaliknya, jika Sawi yang berkelahi dengan kucing jantan lain, Kangkung dengan sukarela akan membantu Sawi.

Karena sikap liar yang masih cukup terjaga seperti itu, kerap Kangkung pulang ke Omah Pari membawa hasil buruannya. Sering kali buruan itu tidak dimakan, dan jadi bangkai di sekeliling Omah Pari. Atau yang lebih sering, Sawi yang menyantap hasil buruan Kangkung.

Sawi, pemalas, terlalu santai, dan manja. Jika tidak sedang makan, atau sedang asyik bermalas-malasan, maka bisa dipastikan Saei sedang tidur. Pagi, siang, malam, begitu seringnya.

Jika anda berkunjung ke Omah Pari, jangan heran jika tiba-tiba Sawi mendekati anda, lantas mencari posisi nyaman di pangkuan anda, kemudian ia tidur.

Untuk perkara makan, Sawi tidak semudah Kangkung. Ia lebih selektif. Tidak sembarang makan apa saja yang ada di Omah Pari. Jadi tidak semua yang Kangkung makan bisa dimakan oleh Sawi. Namun yang mengherankan, tubuh Sawi lebih gemuk dibanding Kangkung. Saya menduga intensitas gerak yang menjadi sebabnya.

Yang menarik, jika melihat Kangkung dan Sawi sedang berinteraksi, saya melihat Kangkung lebih sering mengalah kepada Sawi. Makanan, permainan, hewan buruan, bahkan tempat tidur sekalipun, Kangkung akan mengalah. Saya sering melihat Kangkung sudah asyik tertidur pulas di posisi yang nyaman, tiba-tiba Sawi datang, menindih Kangkung, lantas merebut tempat tidur Kangkung. Kangkung tidak marah, hanya bergeser sedikit lalu melanjutkan istirahatnya.

Saya kira, sudah dua tahun Ipul tinggal seorang diri di Omah Pari. Di luar interaksi dengan teman-teman yang banyak berkunjung ke Omah Pari, interaksi utama Ipul ya dengan Kangkung dan Sawi, juga dengan banyak tumbuhan yang tumbuh alami, atau sengaja ditanam oleh Ipul di Omah Pari. Jika lelaku semacam itu dijalankan terus oleh Ipul setidaknya selama 10 tahun ke depan, saya yakin Ipul akan menjadi penerus Nabi Sulaiman yang bisa berbincang dengan hewan dan tumbuhan. Sejauh ini, pelan-pelan saya lihat kemampuan itu sudah terlihat, obrolan Ipul dengan Sawi dan Kangkung, semakin lancar dan bergairah saja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *