Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin

Usai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut.

Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, mdmbakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, “Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?” Continue reading “Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin”

Kangkung dan Sawi

Tak ada yang tahu dari mana Kangkung dan Sawi berasal. Yang orang tahu, Kangkung dan Sawi dibawa oleh anak-anak Dusun Tambakrejo ke Omah Pari. Mereka membawa Kangkung dan Sawi masih di dalam karung plastik berwarna putih yang biasa digunakan untuk menampung beras. Maka jika saya tanya ke Ipul, pengelola Omah Pari, dari mana Kangkung dan Sawi berasal, Ipul menjawab, “inilah yang disebut kucing dalam karung, Was!” Ia lantas tertawa.

Kangkung dan Sawi adalah dua ekor anak kucing, kali pertama saya melihatnya di Omah Pari sekira 18 bulan lalu. Ipul yang memberi nama kedua anak kucing itu dengan nama sayuran, Kangkung dan Sawi. Continue reading “Kangkung dan Sawi”

Umi Mengajak Saya Mandi Hujan

Saya banyak menyimpan kenangan pada peristiwa hujan. Kenangan-kenangan itu, muncul lebih kuat ketika hujan kembali turun. Seperti beberapa hari belakangan ketika hujan hampir setiap hari di wilayah Yogya misalnya, saya kembali mengenang peristiwa mandi hujan bersama Umi saya di Rawabelong, barat Jakarta.

Seingat saya, ketika itu saya masih sekolah SD, antara kelas empat dan kelas lima, saya lupa persisnya. Di penghujung tahun, seperti sekarang ini, musim hujan sedang pada puncaknya. Pada suatu hari selepas ashar, hujan turun begitu lebat, saya bersama teman-teman seusia di rumah, pergi mandi hujan. Continue reading “Umi Mengajak Saya Mandi Hujan”

Rudolph dan Mesin Diesel

“Pemakaian minyak nabati untuk bahan bakar mesin mungkin belum terlihat penting saat ini, namun seiring berjalan waktu minyak ini akan menjadi sepenting minyak bumi dan batu bara pada masa sekarang.” Rudolph Diesel.

Lahir di Paris dengan nama Rudolph Christian Karl Diesel Diesel (selanjutnya ditulis Diesel saja) pada 18 Maret 1858, Diesel dikenal sebagai pria berkebangsaan Jerman penemu mesin diesel. Namanya kini abadi dan terus disebut jika kita membicarakan mesin yang kini dipahami khalayak berbahan bakar solar. Continue reading “Rudolph dan Mesin Diesel”