Amarilis

Hari ini bersama Lala, saya mengantar Bapak dan Ibu mertua serta adik ipar berkunjung ke kebun bunga amarilis di Bukit Patuk, Gunung Kidul. Tahun lalu kebun bunga ini cukup viral karena ulah para pengunjung yang berfoto di area kebun sembari menginjak-injak tanaman. Hari ini pengunjung di kebun bunga yang terletak 20 meter saja dari jalan raya Yogya-Wonosari cukup ramai.

Saat Lala keliling kebun bersama kedua orang tua dan adiknya, saya bernostalgia dengan masa lalu, masa kanak-kanak saya. Nostalgia saya mulai dengan kesadaran, setelah 25 tahun berlalu, baru hari ini saya akhirnya melihat langsung bunga amarilis.

Saya, dua orang kakak saya, dan dua orang adik saya, mengenyam pendidikan taman kanak-kanak di taman kanak-kanak bernama TK Amarilis. TK kami berjarak kurang dari satu kilometer dari rumah kami di Rawabelong. Terletak di Jalan Daud 1, TK Amarilis menempati bangunan sempit di gang sempit yang hanya bisa dilalui dua sepeda motor. Mobil tidak bisa melintas di Jalan Daud 1.

Seingat saya, ada tiga orang guru yang mengajar di TK Amarilis, namun hingga saat ini, hanya Ibu Dahlia yang masih saya ingat. Ibu Dahlia mengajari kami mengenal huruf dan angka, mengajak kami bernyanyi, mengajarkan cara mencuci tangan yang baik sebelum makan, dan mengawasi kami murid-muridnya saat bermain di beberapa arena bermain yang tersedia di halaman sekolah.

Ketika saya sekolah di TK Amarilis, dari sekira 20 anak seangkatan, hanya saya yang berangkat sekolah seorang diri. Anak-anak lainnya berangkat ke sekolah selalu di antar Ibu atau orang yang dipercaya oleh Ibu mereka untuk mengantar dan merawat. Umi hanya mengantar saya ke sekolah sekali saja saat hari pertama sekolah. Ia membimbing saya menuju sekolah, memberitahu petunjuk-petunjuk jalan dari rumah ke sekolah agar saya tidak tersesat saat berangkat dan pulang dari sekolah.

Bukan, bukan karena saya pemberani atau sudah bisa mandiri sedari kecil. Ini semua terjadi karena kesibukan Umi dan Abah. Abah harus bekerja mengawas pembangunan rumah sejak pagi hingga sore setiap harinya. Ketika saya sekolah TK saat berusia lima tahun, di rumah ada dua orang adik berusia tiga tahun dan satu tahun yang harus dirawat Umi pada pagi hari. Siang harinya Umi mengajar pelajaran agama islam di sekolah, saya dan kedua adik saya juga kedua kakak saya dititipkan untuk dijaga di rumah jidah (Ibu dari Umi) yang berjarak 500 meter saja dari rumah.

Itulah yang menyebabkan saya harus selalu berangkat ke sekolah seorang diri, tidak di antar Umi.

Masa-masa sekolah TK adalah masa-masa prihatin bagi keluarga kami. Umi yang hanya guru sekolah dasar saja masih bergaji rendah. Nasib guru pegawai negeri saat itu begitu buruk, tidak seperti guru-guru di masa sekarang ini. Kami adalah keluarga betawi yang rudin.

Di rumah tidak ada televisi juga radio. Kami bertujuh (Abah, Umi, saya dan keempat saudara saya) tidur bertumpuk di dua kamar berukuran kecil. Di ruang tamu hanya ada tumpukan-tumpukan buku milik Abah. Jika hendak menonton televisi, kami menumpang di rumah tetangga. Televisi baru ada di rumah kami saat saya berusia 10 tahun, lima tahun setelah saya lulus taman kanak-kanak.

Sekali waktu Umi pernah mendapat voucher belanja entah dari siapa, voucher itu bernilai Rp500 ribu, angka yang cukup besar pada periode 90an. Kami semua anak-anaknya sudah mencatat ukuran sepatu dan pakaian. Dengan strategi belanja yang baik, Umi dan Abah memprediksi semua kami akan mendapat sepasang sepatu baru dan satu buah pakaian baru. Kemudian Umi dan Abah berangkat ke swalayan yang memberikan voucher menggunakan sepeda motor.

Setengah jam kemudian Umi dan Abah kembali dengan kabar buruk. Voucher hanya bisa dibelanjakan untuk produk-produk tertentu saja, dan harga minimal produk yang bisa dibeli menggunakan voucher tersebut, berada pada angka Rp1 juta. Kami semua menangis, lalu berkat ulah Umi, kami melanjutkan tangis dengan tawa, menertawakan harapan-harapan kami untuk bisa mendapat sepatu dan pakaian baru.

Selama setahun penuh sekolah di TK Amarilis, bekal makan saya melulu nasi dengan lauk tahu dan tempe, sesekali telur memberi variasi. Saya tidak terlalu suka tempe namun sangat menggilai tahu. Kadang bekal yang saya bawa mi goreng telur ceplok.

Ibu Dahlia menjadi guru favorit saya karena kerap menukar bekal kami murid-muridnya setidaknya tiga kali dalam seminggu. Jika bekal yang dibawakan Umi untuk saya itu tahu, saya berusaha sebisa mungkin agar bekal milik saya tidak ditukar. Sering berhasil karena anak-anak lain tidak begitu suka tahu. Berkat Ibu Dahlia juga saya menjadi sering makan ayam, daging sapi, dan lauk mewah lainnya yang saat itu jarang saya makan di rumah.

Mendadak saya rindu Ibu Dahlia, dan terutama, rindu Umi yang berjuang sedemikian rupa dalam keterbatasannya untuk bisa membesarkan kami anak-anaknya. Puluhan tahun Umi berjuang untuk saya dan keempat saudara saya, namun, hingga saat ini, belum ada hal yang riil yang bisa saya balas untuk seluruh kebaikan Umi dan Abah.

Gunung Kidul, 17 Oktober 2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *