Ditampar Guru

Belum hilang dari ingatan kita kasus guru yang dilaporkan ke polisi karena mencubit seorang murid. Pro dan kontra terkait kasus ini meruak cepat. Ragam bentuk komentar dan tanggapan datang dari berbagai kalangan masyarakat. Beberapa rekan seprofesi melakukan aksi dukungan terhadap sang guru yang sedang menghadapi persidangan. Media sosial meriah tanggapi kasus ini.

Saya teringat kejadian yang menimpa saya sekira 16 hingga 18 tahun yang lalu. Saat itu saya masih duduk di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Tentu saja saya lupa kapan tepatnya kejadian itu terjadi, namun saya masih ingat detail kejadiannya.

Siang itu jam pelajaran fisika dimulai. Guru yang mengajar sudah duduk di kursi yang disediakan untuknya. Seluruh murid duduk rapi di tempatnya masing-masing. Tak ada kasak kusuk, semua khusyuk menanti materi pelajaran diberikan oleh guru. Tetiba dengan suara sedikit membentak pak guru fisika memanggil, “Hei kamu, sini kamu, cepat!” Beberapa murid saling menatap memastikan siapa yang dipanggil.

“Kamu, iya kamu, Fawaz. Sini kamu.”

Saya beranjak dari kursi, berjalan perlahan menuju depan kelas tempat guru fisika duduk. Saat tiba di hadapan guru tersebut, ia berdiri, kemudian, “Plak, plak, plak…” Suara telapak tangan yang bertemu kedua pipi saya tiga kali terdengar. Suara itu keras terdengar karena kelas sunyi. Tak ada yang berbicara sama sekali.

Sembari mengusap pipi saya bertanya, “Loh, Pak, salah saya apa?”

“Kamu nggak usah menyangkal dan pura-pura nggak tahu ya. Mata kamu nggak bisa berbohong. Kamu itu mabuk.”

Seisi kelas masih hening, seorang pun tak ada yang berani bersuara. Hanya suara guru fisika saja yang terdengar. Ia memberikan wejangan-wejangan kepada rekan-rekan saya di kelas, meninggalkan saya seorang diri di depan kelas yang masih kebingungan, yang sama sekali tak diberikan kesempatan untuk menjelaskan.

Kemudian ia berbalik ke arah saya, memerintahkan saya untuk kembali duduk, berpesan agar saya jangan mengulangi perbuatan tak terpuji itu. Jika ketahuan, ia mengancam untuk melaporkan saya ke kepala sekolah agar saya dikeluarkan.

Sekembalinya saya ke kursi tempat biasa saya duduk, teman sebangku saya berujar, “Bangsat, padahal dia yang mabok itu, yakin gw, dia yang mabok, bangsat, anjing. Kenapa elu nggak ngelawan.”

Sepanjang SMP, seingat saya, tak pernah sekalipun saya keluar dari peringkat 3 besar di kelas. Memang itu tak menjamin kalau saya tak pernah mabuk sama sekali. Tapi, tentu saja saat itu, saat kejadian saya ditampar itu, saya sama sekali tidak mabuk. Saat ia bilang mata tak bisa bohong, sesungguhnya saya hendak tertawa, hendak tertawa puas, menertawakan pak guru fisika itu yang saya bersepakat dengan rekan sebangku saya, dia yang mabuk.

Bisa saja saya melawan saat itu. Saya punya argumen yang kuat, saya tidak mabuk, dan, mata saya ini, sudah sejak mbrojol ya sayu begini bentukannya. Namun saya urungkan niat untuk melawan. Saat itu, Abah dan Umi saya sedang mengalami cobaan berat di rumah, perekonomian keluarga kami sedang limbung. Krisis moneter sebabkan usaha Abah hancur, reformasi belum berimbas pada usaha Abah. Sedang Umi, hanya guru agama islam di sekolah dasar. Saat itu, untuk seorang PNS, apalagi guru, jauh dari kata sejahtera, tak seperti sekarang yang kian membaik. Jadi, saya tak mau menambah beban mereka karena saya berkasus di sekolah, kasus yang sama sekali tak ada salah saya di dalamnya. Kasus yang terjadi karena Tuhan menciptakan mata saya seperti ini, sayu, layaknya orang yang baru selesai menikmati ganja.

Setelah kejadian itu, saya bersumpah tak akan pernah bercita-cita menjadi guru. Tentu saja saya tidak membenci profesi guru, saya bisa mengerti kelakuan guru fisika itu tidak merepresentasikan seluruh guru. Hanya ulah oknum bodoh yang sedang mabuk saja. Toh Umi guru, dan banyak guru saya yang baik selama saya sekolah dari SD hingga SMA. Saya enggan jadi guru karena enggan melakukan kesalahan bodoh seperti guru fisika saya itu.

Saya terima ditampar, dicubit, dipukuli sekalipun jika saya salah dan kesalahan saya itu fatal. Lah ini nggak salah apa-apa kok main tampar saja. Saya takut berlaku seperti itu.

Sekarang, Ya Rabb, saya malah jadi guru, sukarelawan guru walaupun saya enggan disebut begitu. Kan jadinya lucu. Sumpah saya ganti, sebelumnya saya bersumpah tak mau jadi guru, saat gagal, saya bersumpah tak akan menampar, mencubit, atau melakukan kontak fisik kepada rekan-rekan belajar saya, sebesar apapun kesalahannya. Sejauh ini, berhasil. Jika tak percaya, silakan tanya rekan-rekan belajar saya di Sokola Rimba Jambi, Sokola Asmat Papua, Sokola Kajang atau Sokola Kaki Gunung Jember.

Stasiun Gubeng, Surabaya, 24 Juli 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *