Bermain di Hutan

Pada komunitas Orang Rimba Rombong Makekal Hulu yang mendiami tanah ulayat bagian barat Taman Nasional Bukit 12, hutan menjadi episentrum kehidupan seluruh komunitas, termasuk anak-anak. Anak-anak rimba, menjadikan hutan sebagai arena terbuka maha luas untuk bermain, belajar, dan berdaulat.

Dengan ketapel dikalungkan di leher, anak-anak rimba bermain di hutan. Mereka berlari menyusuri hutan, memanjat pohon, berayun-ayun dari satu pohon ke pohon lain, mandi di sungai jernih, memanen buah-buahan, belajar berburu dan memasang jerat, dan ragam rupa aktivitas menyenangkan lainnya. Masa kecil seperti itu, saya kira menjadi impian semua anak-anak di bumi. Bisa bermain dan belajar di arena yang begitu luas dan sejuk.

Beberapa hari lalu, saya dapat kabar dari Pengendum perihal bantuan dari pemerintah daerah yang masuk ke wilayah Orang Rimba Makekal Hulu, tepatnya sub-rombong Pengelaworon. Salah satu bantuan yang dikirim pemda jauh ke dalam hutan, adalah seperangkat alat permainan yang biasanya terpacak di halaman taman kanak-kanak. Ayunan, perosotan, dan beberapa wahana permainan mini lainnya.

Mendengar kabar itu, perasaan sedih sekaligus lucu datang bersamaan. Tentu saja niatan memberi bantuan itu baik. Sangat baik. Saya menghargai itu. Tapi saya sedih bantuan semacam itu tidak tepat sasaran. Sangat tidak tepat sasaran. Buang-buang dana. Anak-anak rimba sama sekali tidak membutuhkan itu. Hutan menyediakan sarana lebih dari wahana bermain bantuan itu. Lagi-lagi ini membuktikan, dalam sebuah aksi, niat baik saja tak cukup, ia juga harus kontekstual, tepat sasaran, dan mengakomodasi masukan dari pihak yang hendak dibantu.

Lalu lucunya di mana? Tentu saja kedegilan semacam ini lumrah ditertawai. Lebih lagi jika membayangkan betapa sengsaranya mereka membawa bantuan itu dari kota jauh ke dalam hutan dengan jalan tanah menuju hutan. Semoga hujan tidak turun ketika mereka mengantar bantuan itu.

Lucunya lagi, mereka masuk Pengelaworon dalam kondisi Pengelaworon tak berpenghuni. Orang-orang di Rombong Pengelaworon sedang menjalani ritual adat Melangun, yang salah satu ritualnya harus pergi jauh dari wilayah hunian utama. Ritual Adat Melangun ini yang membikin Orang Rimba dianggap nomaden. Jadi, tak ada Orang Rimba di sana saat mereka datang membawa alat-alat permainan itu.

Saya jadi penasaran ingin lekas mendengar komentar Orang Rimba mengenai bantuan ‘aneh’ itu, terutama komentar anak-anak. Saya juga penasaran siapa yang punya ide memberikan bantuan semacam itu ke rimba.

Pengendum sebetulnya mengirim foto-foto prosesi pemberian bantuan tersebut, tapi saya tak tega melampirkannya pada tulisan ini. Saya lampirkan saja sebuah tulisan yang tertulis di dinding bangunan Sokola Rimba, tulisan yang dibikin salah seorang murid Sokola Rimba:

Bebaskan rakyat kami agar kami bisa bertani, bebaskan hutan kami agar kami bisa bertahan hidup, jangan bantu kami dengan sembako karena membuat hidup orang tergantung dan gak mau bekerja, jangan bantu kami dengan rumah kalau hanya memindahkan kami dari tanah kelahiran kami.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *