Rusdi Mathari di antara Misbach Yusa Biran dan Puthut EA

Sebutkan cita-cita yang lazim dijadikan acuan banyak anak-anak dan remaja ketika ditanya apa cita-cita mereka, kebanyakan dari cita-cita itu, juga pernah singgah di pikiran dan keinginan saya. Pilot, ilmuwan, dokter, insinyur, dan beberapa lainnya. Guru sempat singgah sebentar, namun lekas saya coret dari daftar cita-cita begitu mengetahui betapa berat beban menjadi guru.

Namun, dari banyaknya cita-cita itu, menjadi penulis sama sekali langka diingatan saya. Jangankan memasukkan profesi penulis dalam jejeran daftar cita-cita yang sempat singgah dalam diri saya, mendengar teman saya memasukkan penulis sebagai cita-cita mereka saja belum pernah sekali pun saya dengar.

Celakanya, apa yang pernah saya coret dari daftar cita-cita (guru, meskipun sekadar sukarelawan) dan apa yang sama sekali tidak saya bayangkan sebagai cita-cita (penulis) kini bisa dibilang sebagai profesi saya. Celakanya lagi, saya begitu menikmati dua profesi itu, di antara beberapa profesi lain yang juga saya nikmati, bermain bersama anak-anak misal.

Ketika menjadi guru, alih-alih terjebak paradigma lama memahami relasi guru-murid yang hierarkis dan ‘menindas’, atau memprotes semua itu dengan enggan menyebut diri guru, Sokola Institute memberi saya kebebasan untuk mendefinisikan ulang relasi guru-murid bersama rekan-rekan belajar saya di Sokola Rimba, Sokola Asmat, Sokola Kaki Gunung, dan beberapa lokasi lain. Saya tak mau terjebak melulu dalam tataran paradigma, sesekali saya harus keluar, dan membawa perdebatan dalam tataran paradigma itu ke ranah praksis di lapangan.

Praksis itu tidak melulu berhasil memang, terutama pada komunitas yang sudah mengenal relasi guru-murid di sekolah formal. Praksis ini sepenuhnya berhasil di Sokola Rimba, banyak mengalami peningkatan pesat di Sokola Asmat, namun mendapat beberapa hambatan di Sokola Kaki Gunung.

Bisa jadi banyak orang menganggap saya tidak pantas menjadi seorang guru, tetapi saya rasa saya sudah berusaha cukup keras. Tangis murid-murid di Sokola Rimba dan di Sokola Asmat saat saya pamit pulang karena masa penugasan usai bagi saya cukuplah menjadi sebuah indikator yang menenangkan hati. Anggapan ketidakpantasan menjadi seorang guru, saya rasa juga terjadi saat saya menyebut diri berprofesi sebagai penulis. Mungkin banyak yang bilang tulisan saya jangankan bagus, jelek-saja-belum. Tapi saya tidak marah apalagi kecewa dengan anggapan itu. Saya terima kritik itu dengan terus belajar, membaca-membaca-membaca-menulis.

Saya hidup dalam lingkungan keluarga yang begitu erat memeluk tradisi membaca. Umi dan terutama Abah saya begitu rakus membaca. Abah bahkan mengoleksi sekira dua ribuan buku di rumah kami. Cing Amang, kakak dari Abah saya, lebih banyak lagi koleksi bukunya dan lebih rakus lagi dalam membaca. Rumah Abah dan rumah Cing Amang, bersebelahan. Dempet.

Meski dekat dengan tradisi membaca, dan sudah rutin membaca buku sejak usia SMP, saya sama sekali tak pernah kepikiran memilih penulis sebagai sebuah profesi ketika saya masih kanak-kanak dan remaja dulu. Keinginan bisa menerbitkan buku datang baru-baru saja, tak lama setelah saya lulus kuliah. Keinginan itu muncul dengan alasan sederhana: saya sudah cukup banyak membaca buku, buku yang ditulis orang lain. Saya ingin sekali saja menulis dan menerbitkan sebuah buku, dan buku saya dibaca orang, jangan saya mulu yang membaca buku orang. Sekali saja menulis dan menerbitkan buku, setelah itu saya akan kembali menjadi pembaca saja.

Ternyata tidak segampang itu. Saya malah menikmati profesi sebagai penulis, dan saya bangga menyebut diri sebagai penulis, meskipun Mas Irfan Afifi pernah menyayangkan keputusan saya ini, “kamu itu sarjana nuklir, Waz, master teknik lingkungan, kok ya malah milih jadi penulis, Waz!” Ujar Mas Irfan, bisa jadi Ia sekadar guyon saja.

Pertama-tama, saya begitu menikmati aktivitas membaca, dengan memilih profesi sebagai penulis, saya dituntut untuk lebih rajin membaca. Bukan jaminan memang mereka yang rajin membaca tulisannya jadi bagus, tapi ada jaminan lain, mereka yang malas membaca, mendekati mustahil menghasilkan tulisan bagus, kecuali Ia mendapat mukjizat.

Ketika memutuskan serius belajar menulis, sebuah simpul rumit terbentuk dan mendekatkan saya pada lingkungan yang diisi banyak penulis dengan karya baik, menurut saya tentu saja. Simpul itu, dimulai dan berujung pada dua nama, Puthut EA dan Rusdi Mathari. Keduanya menggembleng dan membesarkan hati saya sekaligus ketika saya memutuskan serius belajar menulis.

Baru dua buku yang saya terbitkan, tiga jika ditambahkan sebuah buku yang saya tulis bersama beberapa rekan lain di bawah bimbingan langsung Puthut EA, Pak Roem Topatimasang, dan Nurhady Sirimorok. Lalu, mengapa ada Misbach Yusa Biran dalam judul tulisan ini?

Jadi begini ceritanya. Saya selalu memilih buku utama yang menjadi pendamping saya berkarya. Buku itu akan saya baca ketika saya rehat menulis. Saat menulis buku ‘Yang Menyublim di Sela Hujan’, saya memilih buku ‘Menanam Padi di Langit’ karya Puthut EA sebagai buku pendamping utama. Untuk buku ‘Seandainya Aku Bisa Menanam Angin’ saya memilih buku ‘Keajaiban di Pasar Senen’ karya Misbach Yusa Biran sebagai buku pendamping utama.

Jika ada pendamping utama, tentu ada pendamping setelah utama. Untuk pendamping setelah utama itu, buku-buku dan tulisan-tulisan Cak Rusdi Mathari selalu saya pilih setelahnya.

Ada terlalu banyak deretan manusia yang mesti saya sebut ketika saya harus mengucapkan terima kasih karena telah mendorong saya begitu menikmati profesi menulis. Terlalu banyak. Selain kedua orang tua saya, saya kira kepada Mas Puthut dan Cak Rusdi saya mesti mengucapkan terima kasih terlebih dahulu. Dan saya kira, dengan mengucapkan terima kasih kepada keduanya, itu sudah mewakili ucapan terima kasih ke banyak orang lainnya.

Selamat berakhir pekan, Bung dan Nona. Saya menikmati akhir pekan kali ini dengan menulis dua buah buku bersama tim Sokola Institute. Dan masih tetap menikmati menuliskan ini di sini ketika rehat menulis buku Sokola. Semoga kamu semua juga menikmati akhir pekan kali ini. Tabik.

Jakarta, 6 Juli 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *