Voucher Belanja

Kisah ini terjadi beberapa hari sebelum Diego Armando Maradona diusir dari gelaran Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat karena kasus doping. Malam itu saya dan ketiga orang saudara perempuan saya begitu cemas sekaligus bahagia menanti Umi dan Abah pulang. Hari itu sudah masuk masa libur sekolah. Kami semua naik kelas dengan nilai yang memuaskan. Saya naik ke kelas tiga SD.

Sesaat sebelum meninggalkan rumah, Umi dan Abah mengukur panjang kaki kami. Umi juga mencatat ukuran baju kami. Mereka berdua lalu berangkat menuju toko untuk menukarkan voucher belanja yang Umi dapat sebagai hadiah.

Saat itu, nilai voucher belanja yang diberikan cukup besar. Cukup untuk mendapat tiga pasang sepatu dan tiga pasang pakaian baru serta beberapa keperluan rumah tangga Umi dan Abah tanpa mengeluarkan sepeserpun uang. Bayang-bayang sepatu dan pakaian baru menghantui kepala saya dan ketiga saudara perempuan saya.

Hanifah Rahim, kakak perempuan saya yang kedua, yang terlihat paling sumringah menanti kedatangan sepatu baru. Ia terus menerus bicara sembari bergaya memamerkan sepatu, “tahun ajaran baru, Hani pakai sepatu baru.” Saya, kakak pertama, dan adik perempuan saya, senyum-senyum menyaksikan tingkah Hani.

Pada waktu yang bersamaan, di sebuah toko swalayan, Umi dan Abah baru saja dilanda kecewa. Ternyata voucher yang Umi punya, hanya bisa digunakan untuk belanja alat elektronik yang bagi keluarga kami ketika itu, masih menjadi kebutuhan tertier, bukan kebutuhan utama atau kedua sekalipun.

Lebih dari itu, harga alat elektronik yang bisa dibeli menggunakan voucher, harga paling murahnya, tiga kali lipat nilai voucher yang dimiliki Umi. Jadi jika ingin menukarkan voucher, Umi dan Abah harus keluar uang setidaknya dua kali lipat nilai nominal voucher.

Mereka berdua kemudian pulang. Sebelum masuk rumah, Umi membuang voucher ke tempat sampah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *