Ruang Bermain

Sering kali saat saya mudik dan ikut salat berjamaah di musala di Jakarta, jamaah di saf belakang menarik perhatian sekaligus mengganggu kenyamanan pandangan saya, saf yang diisi oleh anak-anak.

Bukan, bukan karena keributan yang mereka timbulkan yang menarik perhatian atau mengganggu saya. Kalau itu wajar-wajar saja. Kadang saya malah rindu suasana yang begitu itu. Keributan yang diinisiasi oleh anak-anak di masjid, musala atau langgar saat salat berjamaah. Memicu saya untuk bernostalgia masa-masa kecil saat ikut salat berjamaah, mengusili atau diusili.

Saat saya memperhatikan lagi dengan saksama jamaah anak-anak ini, saya disajikan oleh fakta bahwa mayoritas mereka bertubuh gemuk, beberapa malah terlalu gemuk. Lucu memang, chuby chuby gitu deh.

Spontan saya membandingkan keadaan mereka dengan keadaan saya dan kawan-kawan bermain saya saat seusia mereka dulu. Kami semua kurus, beberapa terlalu kurus malah, hitam dekil dan bau keringat serta bau matahari karena bermain tak kenal waktu, bermain selalu nomor satu.

Berbeda dengan anak-anak yang saya lihat di saf belakang saat salat. Mereka gemuk, lucu, imut dan berpenampilan rapi, jauh dari bau matahari. Bisa jadi anak-anak seangkatan saya dulu memang kurang gizi, tingkat kesejahteraan keluarga kami jauh dibanding dengan kondisi saat ini. Tapi, saya kira, ini belum tentu benar, karena teman-teman seangkatan saya dulu banyak yang berasal dari keluarga sejahtera dan kaya raya, tapi kurus. Sedang yang saya lihat di saf belakang baru-baru ini, yang gemuk dan obesitas itu, beberapa saya kenal, anak teman-teman saya, dan mereka dari keluarga biasa-biasa saja, bukan dari keluarga kaya raya.

Kemudian saya iseng-iseng menganalisis, analisis asal-asalan dengan data alakadarnya dan metode semau-mau saya.

Jadi begini, di usia balita, saya kira wajar bocah-bocah memiliki tubuh gendut lucu dan imut, karena kebanyakan orangtua pasti memperlakukan anak mereka saat balita dengan istimewa dan si anak balita masih terbatas ruang geraknya. Namun saat mulai masuk sekolah, TK kemudian SD, bobot menyusut karena gerak gerik, tabiat dan tingkah laku yang membutuhkan energi ekstra, lemak di tubuh jadi korbannya.

Di sekolah bermain, sepulang sekolah bermain, sore hari bermain, hingga malam terus begitu sebelum orangtua mencari dengan raut wajah yang kadang kesal karena hingga larut malam masih terus saja bermain.

Dan hampir semua permainan yang dimainkan itu membutuhkan tenaga karena didominasi kegiatan fisik, minimal berlari. Jadi wajar kurus dan bau matahari. Ditambah lagi nafsu makan yang berkurang saat usia segitu.

Itu dulu, lain dulu lain sekarang. Dalam konteks Jakarta kiwari anak-anak tak lagi begitu. Ruang bermain yang terlalu minim—bahkan di banyak tempat sama sekali tiada—dan invasi gawai yang kian menggila, membuat kebanyakan mereka tak lagi mengenal petak umpet, galasin, petak uber, perang benteng, petak kadal, dan permainan lain yang banyak membutuhkan ruang dan juga gerak yang dinamis.

Ruang bermain anak di Jakarta kini sangat terbatas, akhirnya gairah bermain mereka disalurkan lewat permainan-permainan virtual yang disediakan gawai. Alhasil gerak mereka terbatas dan sejak dini mereka menderita obesitas. Asyik bukan, main game di gawai sembari ngemil dan minum susu? Anak-anak akan sangat paham kenikmatan ini.

Kini, saya sangat mengapresiasi anak-anak yang masih mau bermain bersama rekan-rekannya saat ruang bermain kian terbatas. Mereka memilih bermain sepak bola di jalan-jalan aspal alih-alih duduk terpaku memeluk gawai. Risikonya, mereka kerap dimarahi para pengguna jalan yang sibuk berlalu lalang.

Di jalan dekat rumah saya, sering saya beradu mulut dengan para pengguna jalan yang memarahi anak-anak yang sedang bermain, karena kadang mereka sudah keterlaluan dalam memarahi anak-anak yang menggunakan ruas jalan untuk bermain.

Memang anak-anak ini salah main sepak bola di jalan, tetapi mereka bisa menyesuaikan diri kok, berhenti sejenak saat ada kendaraan lewat. Inikan hebat, mereka bisa memanfaatkan ruang terbatas saat tidak digunakan pengguna utama, meskipun hanya di jeda yang sebentar dan harus mengulang berkali-kali. Sedari dini mereka sudah bisa belajar mangkus dan sangkil, bagaimana berlaku mangkus dan sangkil dalam kondisi serba terbatas.

Nah jika sudah begitu tapi anak-anak masih dimarahi juga, sontak saya ikutan marah, memarahi si pengendara yang sedang memarahi anak-anak. Di saat seperti ini saya serasa jadi pahlawan, pahlawan pembela anak-anak. Silakan puji saya.

Namun poin tulisan ini bukan di situ, bukan pahlawan-pahlawanan, itu mah sok-sokan saya semata. Maksud saya di sini adalah pentingnya ruang bermain bagi anak-anak, bukan sekadar ruang bermain dalam layar berukuran beberapa inci itu, tapi ruang bermain yang mampu mewadahi kebutuhan anak-anak akan permainan yang sebenarnya, yang membutuhkan energi dan rekan berinteraksi dalam permainannya.

Sekali lagi analisis saya ini sekadar analisis asal-asalan dengan data yang sekenanya dan metode yang semau-mau saja, jadi ya begini ini sudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *