Keluarga

Titimangsa 1994, kali pertama saya menonton sepak bola langsung di televisi. Sebelumnya saya sebatas menonton sepak bola antar-kampung di lapangan-lapangan tak jauh dari rumah kedua orang tua saya. Perhelatan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikatlah tontonan itu. Ketika itu usia saya delapan tahun.

Kelak, saya tahu, Piala Dunia 1994 menyisakan banyak cerita menarik. Kegagalan Roberto Baggio menendang pinalti, diusirnya Maradona dari perhelatan, kiprah Bulgaria yang begitu ciamik, warna rambut unik tim nasional Rumania, dan gol bunuh diri Andrès Escobar yang menyebabkan Ia dibunuh setibanya di Kolombia. Serta banyak kisah menarik lainnya.

Sejak saya bisa berjalan, saya kira, sepak bola memang menjadi olahraga dan permainan favorit saya. Saya kerap memanfaatkan waktu luang untuk bermain bola. Hingga hari ini, perasaan itu belum berubah. Sepak bola tetap menjadi permainan favorit saya, seperti juga kebanyakan dari Anda yang membaca tulisan ini saya kira.

Rasa ingin tahu saya perihal Andrès Escobar mengantar saya membaca rimba raya dunia narkotika di Amerika Latin, terutama Kolombia. Saya kemudian menemukan Escobar lainnya, Pablo Escobar, yang berasal dari Kartel Medellin, salah satu kartel narkoba di Kolombia yang menguasai pasar kokain di Miami, Amerika Serikat.

Mulanya tentu saja saya mengetahui Pablo Escobar dari bacaan-bacaan yang saya baca. Salah satu bacaan yang saya baca, buku karya Gabriel Garcia Marquez yang terjemahan Bahasa Indonesianya berjudul Kisah-Kisah Penculikan. Di Indonesia, buku itu diterbitkan oleh penerbit Circa, salah satu penerbit indie di Yogya.

Buku itu salah satu karya non-fiksi Marquez, lebih tepatnya karya jurnalistik Ia. Namun kekhasan gaya penulisan Marquez pada karya fiksinya tidak hilang dalam Kisah-Kisah Penculikan. Marquez menemui orang-orang yang pernah diculik kartel narkotika Kolombia dan keluarga mereka. Tiga tahun Ia melakukan itu hingga buku selesai Ia tulis. Tentu saja Marquez juga bercerita banyak tentang Pablo Escobar. Karena hampir seluruh narasumbernya, adalah orang-orang dan keluarga mereka yang pernah diculik kartel pimpinan Escobar.

Akhir April lalu, saya memilih rehat sejenak di Surabaya sebelum pulang ke Yogya usai keliling wilayah tapal kuda di Jawa Timur dalam rangka diskusi buku. Saya mengisi waktu istirahat dengan menonton serial Narcos di Netflix di rumah Mas Kardono. Satu setengah session saya tonton maraton serial Narcos, sekembalinya ke Yogya, saya melanjutkan serial itu hingga selesai.

Saya lantas mendiskusikan isi serial itu dengan Lala. Meracuni Lala untuk menonton serial itu, berhasil. Lala menonton serial Narcos dengan tekun karena praktis pada masa hamil muda, Lala memang tidak boleh banyak bergerak dan bekerja. Lebih dari itu, Lala melanjutkan risetnya perihal Pablo Escobar dan kartel narkoba di Kolombia dan Meksiko dan beberapa negara Amerika Latin lainnya lewat bacaan-bacaan yang Ia temukan di google dan video-video berisi wawancara kedua anak Pablo Escobar. Semua itu lantas kami diskusikan secara mendalam di rumah.

Diskusi-diskusi dengan tema baru ini, tentu saja menarik bagi kami. Karena sebelumnya diskusi kami melulu perihal buku, tulis-menulis, dan dunia teknik nuklir.

Terlalu banyak yang bisa kami diskusikan perihal Pablo Escobar, perdagangan narkotika terutama kokain di Amerika Latin, dan tentu saja perihal legalisasi ganja.

Dari sekian banyak diskusi itu, satu yang begitu menarik minat kami. Perihal keluarga.

Pernah ada masanya Pablo Escobar menyerahkan diri kepada pemerintah Kolombia, syaratnya, Ia harus dipenjara dalam penjara yang Ia bangun sendiri. Dan syarat itu dipenuhi oleh pemerintah Kolombia. Ia kemudian membangun penjaranya sendiri.

Tentu saja dengan begitu banyaknya uang yang Ia miliki (pada puncak kejayaannya, bisnis kokainnya menghasilkan 30 juta dolar per hari), Pablo Escobar membangun penjara laiknya kastil. Semua serba ada di sana, kecuali, keluarganya. Sekali sepekan memang keluarganya diizinkan berkunjung ke penjara, namun bagi Pablo Escobar yang begitu cinta pada keluarga, itu belum cukup.

Saya pernah mendengar, Eddward S Kennedy sedang menulis buku perihal dunia mafia dan kartel dunia. Saya tak sabar buku itu segera terbit. Saya yakin referensi perihal apa yang saya diskusikan akhir-akhir ini dengan Lala akan semakin kaya. Mari berharap Panjul lekas menyelesaikan buku itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *