Azan

Pada usia 20 tahun, Elisabeth memutuskan hanya memakan sayur dan buah-buahan saja. Vegetarian. Ia sudah merencanakan itu sejak usianya 17 tahun. Pada usia itu pula, Ia merencanakan hanya memakan buah-buahan saja mulai usia 30 tahun. Terhitung hingga hari ini, sudah empat tahun Elisabeth hanya mengonsumsi buah-buahan saja.

Elisabeth berasal dari Birmingham, Inggris. Sejak menikah dengan seorang laki-laki asal Lumajang, mereka tinggal di salah satu pulau di NTB dan mengelola lahan seluas 1000 meter persegi. Di lahan itu, Ia dan suaminya menanam buah-buahan dan sayur-sayuran. Suaminya masih vegan, belum sampai tahap seperti yang Elisabeth jalani.

Elisabeth, seperti kebanyakan warga asli Inggris, beragama Kristen Anglikan. Sekali waktu, Elisabeth cerita perihal azan yang lima kali dalam sehari berkumandang di masjid-masjid dan musala di banyak tempat di negeri ini. Ia tak merasa terganggu dengan semua itu. Elisabeth malah memanfaatkan azan sebagai panduan untuk rutinitasnya sehari-hari.

Azan subuh bagi Elisabeth sebagai penanda Ia harus sudah terjaga di jam itu. Selanjutnya Ia menyiapkan sarapan, olahraga, lalu bekerja mengurus kebunnya, atau mengerjakan pekerjaan-pekerjaan lainnya. Azan zuhur, sebagai penanda Ia harus berhenti bekerja, rehat makan siang lalu melanjutkan pekerjaan atau tidur siang sejenak. Azan ashar, Ia gunakan sebagai penanda untuk berhenti bekerja. Selanjutnya Ia akan membaca buku, atau bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Azan maghrib Ia gunakan untuk penanda kembali ke rumah, mandi, menyiapkan makan malam. Dan sesaat sesudah azan isya, Ia makan malam. Begitu setiap harinya Elisabeth memanfaatkan azan sebagai penanda.

Saya lantas berpikir, seharusnya saya yang muslim menyadari dan mempraktikkan lebih dulu apa yang Elisabeth praktikkan dalam mengatur waktu memanfaatkan azan. Sayangnya, alih-alih begitu, saya malah kerap abai dengan azan.

Seandainya saya memanfaatkan azan untuk betul-betul mengatur waktu beraktivitas seperti yang Elisabeth praktikkan, saya yakin hidup saya lebih tertata, dan lebih banyak waktu produktif yang bisa saya manfaatkan untuk berkarya.

Sejauh ini, usai mengetahui apa yang Elisabeth lakukan, saya hanya bisa menulis dan menceritakannya di sini. Lain tidak. Tentu saja malas dan abai menjadi sebabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *