Aljabar Langit

Belum tepat jam satu dini hari tadi saya mematikan mesin sepeda motor, mengambil kunci rumah, membuka pintu yang terkunci, kemudian menguncinya kembali setelah saya dan sepeda motor sudah berada di dalam rumah. Lampu ruang tamu masih menyala, juga lampu kamar tempat saya dan istri tidur. Usai mengunci pintu, saya mematikan lampu ruang tamu dan kamar tidur.

Dini hari tadi seperti dini hari yang lainnya. Sunyi, gelap, hanya suara detak jam dan derap langkah yang terdengar di telinga. Yang membedakan dini hari tadi dengan dini hari lainnya adalah, suara yang berasal dari kamar saya dan istri, suara yang menyayat hati yang sumbernya dari nafas istri saya yang sedang tidak normal.

Ia sudah tertidur, kadang mengigau, sesekali terjaga karena batuk atau nafas yang semakin sulit. Saya menggosok punggungnya dengan minyak kayu putih, memintanya minum air putih, dan bertanya apa yang ia rasakan.

Sebelum batuk dan sesak nafas mengganggu tidurnya, saya duduk di dekat ia tidur. Sebelumnya lampu saya matikan. Perasaan aneh berkecamuk dalam diri.

Dini hari tadi, setelah sembilan bulan kami resmi menikah, pertamakalinya saya menangis, menangis sesenggukan menyaksikan kondisi istri saya. Pada saat-saat seperti itu, saya merasa gagal menjadi seorang suami yang baik. Menangis lama kemudian membasuh tubuh dengan wudhu.

Sampai pagi saya tak tidur. Whatsapp mengabarkan honor menulis sudah saya terima. Saya memberitahukan kabar ini ke Lala. Alhamdulillah.

Selepas shalat jumat kami makan, lalu bergegas menuju fakultas Biologi UGM lanjut ke Rumah Sakit Panti Rapih di selatan gerbang UGM. Dokter dibantu perawat memeriksa Lala. Kami harus membayar Rp425 ribu untuk jasa dokter dan tujuh jenis obat.

Malam ini saat saya sedang berbincang dengan Adlun Fikri—dua kali pernah menjadi napi, aktivis literasi jalanan Ternate—di fakultas teknik UGM, Lala memberi kabar. Ada yang membeli enam buah jilbab, total seharga Rp427 ribu. Lala memang jualan jilbab, tas, dan pakaian wanita secara on-line. Ditambah pengeluaran untuk parkir, kami masih untung Rp500. Itu belum termasuk honor menulis dan uang jualan dua jilbab di fakultas biologi tadi. Kalau ada istilah “Gusti Allah Mboten Sare”, benarlah adanya. Bukan sekali dua kami membuktikannya.

“Kita tuh menghina ketauhidan kita kalau masih khawatir besok nggak bisa makan.” Ujar Cak Rusdi beberapa waktu lalu.

Sleman, 16 Oktober 2016

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *