Ruang Bermain

Sering kali saat saya mudik dan ikut salat berjamaah di musala di Jakarta, jamaah di saf belakang menarik perhatian sekaligus mengganggu kenyamanan pandangan saya, saf yang diisi oleh anak-anak.

Bukan, bukan karena keributan yang mereka timbulkan yang menarik perhatian atau mengganggu saya. Kalau itu wajar-wajar saja. Kadang saya malah rindu suasana yang begitu itu. Keributan yang diinisiasi oleh anak-anak di masjid, musala atau langgar saat salat berjamaah. Memicu saya untuk bernostalgia masa-masa kecil saat ikut salat berjamaah, mengusili atau diusili.

Continue reading “Ruang Bermain”

Aljabar Langit

Belum tepat jam satu dini hari tadi saya mematikan mesin sepeda motor, mengambil kunci rumah, membuka pintu yang terkunci, kemudian menguncinya kembali setelah saya dan sepeda motor sudah berada di dalam rumah. Lampu ruang tamu masih menyala, juga lampu kamar tempat saya dan istri tidur. Usai mengunci pintu, saya mematikan lampu ruang tamu dan kamar tidur.

Dini hari tadi seperti dini hari yang lainnya. Sunyi, gelap, hanya suara detak jam dan derap langkah yang terdengar di telinga. Yang membedakan dini hari tadi dengan dini hari lainnya adalah, suara yang berasal dari kamar saya dan istri, suara yang menyayat hati yang sumbernya dari nafas istri saya yang sedang tidak normal.

Continue reading “Aljabar Langit”

Keluarga

Titimangsa 1994, kali pertama saya menonton sepak bola langsung di televisi. Sebelumnya saya sebatas menonton sepak bola antar-kampung di lapangan-lapangan tak jauh dari rumah kedua orang tua saya. Perhelatan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikatlah tontonan itu. Ketika itu usia saya delapan tahun.

Kelak, saya tahu, Piala Dunia 1994 menyisakan banyak cerita menarik. Kegagalan Roberto Baggio menendang pinalti, diusirnya Maradona dari perhelatan, kiprah Bulgaria yang begitu ciamik, warna rambut unik tim nasional Rumania, dan gol bunuh diri Andrès Escobar yang menyebabkan Ia dibunuh setibanya di Kolombia. Serta banyak kisah menarik lainnya.

Continue reading “Keluarga”

Azan

Pada usia 20 tahun, Elisabeth memutuskan hanya memakan sayur dan buah-buahan saja. Vegetarian. Ia sudah merencanakan itu sejak usianya 17 tahun. Pada usia itu pula, Ia merencanakan hanya memakan buah-buahan saja mulai usia 30 tahun. Terhitung hingga hari ini, sudah empat tahun Elisabeth hanya mengonsumsi buah-buahan saja.

Elisabeth berasal dari Birmingham, Inggris. Sejak menikah dengan seorang laki-laki asal Lumajang, mereka tinggal di salah satu pulau di NTB dan mengelola lahan seluas 1000 meter persegi. Di lahan itu, Ia dan suaminya menanam buah-buahan dan sayur-sayuran. Suaminya masih vegan, belum sampai tahap seperti yang Elisabeth jalani.

Continue reading “Azan”

Mendekati Wilayah Konflik

Apa yang dialami Timnas Futsal U20 kita barusan, mengingatkan apa yang pernah saya pikirkan hingga membikin saya penasaran beberapa waktu lalu. Timnas Futsal U20 baru saja mengalami kekalahan pada fase semifinal perhelatan Piala Asia Futsal U20 yang berlangsung di Iran. Timnas Afganistan U20 yang mengalahkan Timnas U20 kita.

Afganistan U20 melaju ke final. Lawannya menunggu pemenang antara Jepang U20 melawan tuan rumah, Iran U20. Saya menjagokan Afganistan U20 siapapun lawannya di final. Seperti juga saya menjagokan atlet-atlet Uzbekistan di cabang olahraga angkat besi.

Continue reading “Mendekati Wilayah Konflik”

Belajar Tauhid

Kakak pertama saya, Adilah, memiliki tiga orang anak. Anak pertama, laki-laki, berusia tujuh tahun. Anak kedua, juga laki-laki, berusia lima tahun. Dan anak ketiga, seorang perempuan manis yang menurut Lala, istri saya, paling mirip dengan saya, berusia tiga tahun.

Anak pertama dan kedua sudah sekolah. Anak pertama baru saja naik ke kelas dua sekolah dasar, dan anak kedua sekolah di Taman Kanak-Kanak.

Continue reading “Belajar Tauhid”

Malam Ramadan

Sebelum saya merantau dan sebelum kakak dan adik saya menikah, malam ramadan kami di Rawabelong begitu semarak. Selepas menyantap makan berat saat berbuka, kami semua bersiap untuk menjalankan ibadah salat tarawih. Saya, Abah, kedua kakak dan kedua adik saya, berangkat ke majelis taklim, kecuali Umi. Umi akan pergi ke kediaman salah seorang rekan pengajiannya dan salat tarawih bersama rekan-rekan pengajiannya. Umi yang mengimami.

Mengapa kedua kakak perempuan dan seorang adik perempuan saya tidak ikut tarawih bersama Umi? Umi sendiri yang melarangnya. Kebiasaan kami di rumah yang kerap bercanda membuat Umi takut jika ketiga anak perempuannya ikut salat tarawih bersama Umi, konsentrasi Umi saat mengimami akan buyar.

Continue reading “Malam Ramadan”

Tanaman Sayur di Halaman Rumah

Meskipun lahir dan besar di Jakarta, keseharian saya tak asing dengan tanaman, terutama tanaman hias. Kampung saya di Rawabelong adalah sentra penjualan bunga dan tanaman hias terbesar se-Asia Tenggara. Hingga saat ini status itu belum lepas. Tanaman hias dari Bogor, Bandung, Ambarawa, Malang, dan beberapa wilayah di luar Jawa, didatangkan ke Pasar Kembang di Rawabelong. Selain itu, tanaman hias dari luar negeri semisal Thailand, Jepang dan Belanda, juga mudah didapat.

Di halaman rumah Kakek saya, baik dari pihak Bapak dan pihak Ibu, bermacam tanaman hias tersedia, sebagai penghias rumah, dan dijual jika memang ada yang tertarik untuk membeli. Masih sangat membekas dalam ingatan, saat kecil, saya kerap bermain-main dengan pohon saga yang merambat di pagar rumah Kakek, biji-bijinya yang didominasi warna hitam dan merah menarik minat saya. Daunnya yang jika dikunyah, saat bercampur dengan air liur keluarkan warna merah, saya dan teman-teman jadikan bahan permainan, seolah darah, kami menjelma hantu atau preman yang berdarah-darah akibat perkelahian.

Continue reading “Tanaman Sayur di Halaman Rumah”

Titus Taima dan Perubahan di Pedalaman Papua

Pada tahun 2014, di buku catatan kelahiran milik pihak Gereja Mumugu Batas Batu, Titus Taima berusia 18 tahun. Anak dari Kepala Perang Suku Asmat rumpun Wiptiu ini tinggal seorang diri di kampung Mumugu Batas Batu. Setelah bapaknya meninggal dunia, Ibu dan adik-adik Titus pindah ke kampung Mumugu Bawah.

Antara Mumugu Batas Batu dengan Mumugu Bawah berjarak satu jam perjalanan menggunakan speedboat. Jika menggunakan sampan tradisional yang mesti didayung, waktu tempuh menjadi empat jam.

Continue reading “Titus Taima dan Perubahan di Pedalaman Papua”

Anak-Anak dalam Pusaran Konflik

Seringkali, saya mengisi waktu rehat–di sela kesibukan membaca dan menulis–dengan menonton video-video di youtube. Dari begitu banyak pilihan video, yang paling sering saya tonton adalah video-video tentang konflik di Suriah. Kecuali video produksi ISIS, saya menonton semua, baik itu video yang dibuat pihak pro-pemerintah, pihak anti-pemerintah yang diwakili FSA, juga video-video yang tidak berafiliasi kepada keduanya.

Dari sekian banyak video tentang konflik di Suriah, ada dua tema yang menarik perhatian saya dan paling banyak saya tonton selanjutnya. Yang pertama video-video berisi ceramah alm Dr. Muhammad Said Ramadhan Al Buthi, dan yang kedua video berisi cerita tentang kondisi anak-anak yang terjebak dalam situasi konflik bersenjata di Suriah.

Continue reading “Anak-Anak dalam Pusaran Konflik”