Uba dan Bagor

Pada 8 Oktober 2018, memasuki hari ke empat Bagor dan Uba berada di Donggala, Sulawesi Tengah. Mereka ikut bergabung dengan Tim Relawan Kemanusiaan Insist. Setelah assessment di Donggala selesai, ada rencana mereka akan pindah ke Palu, juga bersama tim TRK Insist.

Uba tiba di Makassar Rabu dini hari, 3 Oktober 2018. Ia berangkat dari Padang, kebetulan Uba sedang Mudik. Bagor sudah menunggu Uba. Ia tiba di Makassar dua hari lebih cepat dari Uba. Rabu malam mereka berangkat bersama TRK Insist menuju Donggala. Jumat pagi, 5 Oktober 2018, tim tiba di Donggala.

Bagor dan Uba, rekan saya mendaki gunung, arung jeram, dan beberapa kegiatan minat khusus lainnya. Kami bergabung dalam organisasi Satu Bumi di kampus. Berkegiatan bareng mereka berdua, menyenangkan. Karena mereka berdua setipe, pekerja keras dan serba bisa. Ini juga menjadi nilai lebih bagi mereka di Sulawesi Tengah. Ditambah lagi, keinginan secara sukarela membantu mereka yang membutuhkan selalu menggebu.

Uba dan Bagor ini memang pasangan yang pas. Tim yang cocok dan memang begitu cocok. Kami rekan-rekannya sampai percaya bahwa Uba itu singkatan dari Uba dan Bagor, sedang Bagor itu singkatan dari Uba dan Bagor saking cocoknya mereka.

Maka saya membayangkan bisa berada di dekat mereka kini. Bekerja bersama mereka, dan belajar banyak dari masyarakat yang berjuang kembali bangkit.

Uba dan Bagor

Seingat saya, kali terakhir kami melakukan perjalanan bersama terjadi pada bulan puasa setahun lalu. Ketika itu saya mesti membeli bibit pohon cengkeh, jeruk dan manggis. Total 2000 bibit. Bibit itu akan kami tanam bersama warga Desa Turgo, lereng selatan Gunung Merapi. Bagor punya kenalan penjual bibit pepohonan berharga murah di Purworejo. Bersama Bagor, saya berangkat ke Purworejo. Uba dengan sukarela menyopiri mobil bak terbuka yang kami sewa.

Yogya-Purworejo-Desa Turgo kami tempuh mendekati enam jam. Kami berbuka puasa beberapa ratus meter utara Monumen Jogja Kembali. Bagor pula yang berkoordinasi dengan warga terkait distribusi bibit. Menghubungi ibu-ibu PKK Desa menyediakan buka bersama peserta acara penanaman bibit. Dan beberapa pekerjaan lain.

Bagor dan Uba selalu begitu, bersemangat bisa belajar banyak dari masyarakat tempatan. Saya pikir, akan banyak cerita menarik dari Bagor dan Uba sekembalinya nanti dari Sulawesi Tengah. Juga cerita menarik tentang Lombok dari Bagor. Karena, Bagor belum sempat kembali ke Yogya setelah lebih 40 hari di Lombok. Ia berangkat langsung ke Sulawesi Tengah dari Mataram dengan transit di Makassar.

Yang mengkhawatirkan kami. Kondisi ini akan menyulitkan Bagor ketika bercerita juga membikin laporan. Karena Bagor manusia, Ia juga punya kekurangan. Satu kekurangan parahnya, Bagor identik dengan typo. Tak sekadar dalam tulisan, kerap ketika bicara Ia typo. Sejak dari pikiran juga kadang Ia typo.

Kami khawatir ketika kembali ke Yogya nanti, Bagor typo tempat. Kerap kebolak-balik lokasi ketika bercerita dan membikin laporan. Itu akan menyulitkan dia, juga kami yang mendengar ceritanya.

Yang pasti, Bagor masih akan cukup lama di Sulawesi Tengah. Saya tak tahu dengan Uba, belum menanyakan langsung kepadanya. Bagor minta tolong dipulangkan dahulu di awal November. Ia hendak mempersiapkan acara pernikahannya yang rencananya akan dihelat pertengahan atau akhir November. Saat saya tanya, “tanggal berapa pastinya, Gor?” Bagor menjawab, “nanti dikabari lagi, Kang. Masih rahasia.”

Saya khawatir Bagor juga typo dan saya salah paham menangkap informasi. Mungkin yang Ia maksud November 2019 Ia minta dipulangkan. Kan lama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *