Tebe

Tahun 2012, memasuki pancaroba. Musim hujan akan berakhir, musim kemarau segera tiba. Cuaca tak menentu. Hujan berganti panas dengan cepat ketika itu. Tiga belas orang sedang berada di Pegunungan Iyang. Mendaki Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Empat orang dari mereka sedang menjalani proses pendidikan lanjutan divisi gunung hutan. Tiga perempuan, satu laki-laki.

Sisanya sebagai tim pendamping dan tim hura-hura. Saya satu di antaranya. Masuk tim hura-hura. Lima hari empat malam perjalanan kami dari Desa Baderan di Kabupaten Situbondo melintasi Pegunungan Iyang hingga Desa Bremi di Kabupaten Probolinggo.

Karakteristik jalur pendakian di Pegunungan Iyang memang menarik dan cocok untuk pendidikan lanjut gunung hutan. Menjadi jalur pendakian terpanjang di Pulau Jawa, jalur ini menawarkan paket lengkap sepanjang jalur. Di beberapa tempat jalur cukup terjal menanjak. Selebihnya lebih sering jalur mendatar dengan lanskap hutan, padang sabana, hutan homogen pinus, dan hutan cantigi bercampur edelweis.

Sekali waktu di hari kedua. Ketika jalan sedang betul-betul menanjak, ketika semua orang kelelahan dan ngos-ngosan, Tebe asyik berjalan sembari menyanyi dengan volume tinggi dengan beban lebih dari 15 kilogram di punggungnya. Ketika yang lain sibuk mengatur pernapasan agar perjalanan tetap bisa nyaman, Tebe malah menghabiskan sebagian besar napasnya untuk asyik bernyanyi.

Dan sepanjang lima hari perjalanan begitulah Tebe. Bernyanyi dan terus ceria. Saat tenda sudah didirikan, volume suaranya begitu terasa sebagai polusi suara di tengah kesunyian hutan pegunungan. Cempreng dan menyiksa. Apa saja Ia komentari.

Tebe mengenakan jilbab berwarna biru dongker

Ketika itu Tebe menjadi satu dari tiga perempuan yang sedang menjalani kewajiban pendidikan lanjut gunung hutan. Nama sesungguhnya Nurthahirani Tahir. Kami memanggilnya Tebe agar lebih gampang saja.

Seingat saya, sekali itu saja saya pernah mendaki gunung bareng Tebe. Saya kagum dengan stamina dan kekuatan fisiknya. Kemampuannya dalam bidang gunung hutan membawanya ekspedisi berbulan-bulan ke Sumbawa, NTB dan Pulau Morotai, Maluku, serta ke banyak tempat lain di Nusantara.

Selain adik saya di Mapala Satu Bumi, Tebe juga adik kelas saya di teknik nuklir. Ia seangkatan dengan Lala (istri saya) di teknik nuklir. Selain Nourish aka Njum, Tebe berjasa mengenalkan saya dengan Lala hingga kami akhirnya menikah.

Malam tadi, 9 Oktober 2018, saya dapat kabar dari Tebe, jam delapan malam waktu Makassar, Ia tiba di Makassar. Tebe seorang diri diutus Posko Satu Bumi untuk mengurus pembelian logistik dan mengawal pengiriman logistik itu untuk penyintas bencana di Sulawesi Tengah.

Tebe berasal dari Enrekang, Sulawesi Selatan. Kedua orang tuanya menetap di Rantepao, Toraja Utara. Sejak SMP Ia tinggal bersama neneknya karena Ia bersekolah di Makassar. Latar belakang inilah yang menjadi sebab posko mengutus Tebe ke Makassar lanjut ke Palu melalui jalur darat untuk belanja logistik dan mengawal pendistribusiannya. Selain itu, Tebe akan melakukan kerja-kerja assessment fasilitas umum semisal masjid, gereja, sekolah dan fasilitas umum lainnya. Data dari Tebe juga dari Bagor dan Uba yang sudah berada di sana, kemudian akan ada dua orang lagi yang menyusul ke Palu pada hari minggu dan selasa, akan digunakan sebagai bahan pertimbangan dasar posko kami membangun fasilitas umum itu ketika tahap tanggap darurat sudah selesai dan proses rekonstruksi dan rehabilitasi sudah dimulai.

Hari ini Tebe terjadwal keliling Makassar untuk belanja. Kemudian malam nanti melalui jalur darat, Tebe akan bergeser ke Palu, bergabung dengan Bagor dan Uba. Oh iya, satu-satunya lelaki yang ikut kegiatan pendidikan lanjutan gunung hutan yang saya ceritakan di atas itu adalah Bagor. Tebe dan Bagor memang seangkatan di Mapala Satu Bumi. Rekan-rekan mereka selalu menjodohkan mereka. Selalu gagal.

Keren ya anak teknik nuklir ini. Bangga Abang ini, dek. Oh iya, dua dari tiga orang yang akan menyusul Bagor, Uba dan Tebe ke Palu, juga anak teknik nuklir. Ya Allah, teknik nuklir, JAYA!!!

Satu Bumi, Satu Kemanusiaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *