Entropi dan Nir-limbah

Sekira tujuh tahun saya mengenyam pendidikan formal di fakultas teknik, memelajari teknik nuklir yang membikin pusing kepala. Tak banyak hal yang bisa saya ingat dari semua itu kini. Satu dari yang begitu sedikit itu, adalah pelajaran termodinamika tentang entropi.

Secara umum, entropi berarti derajat keacakan. Dalam konteks kosmis, entropi selalu bernilai positif. Ini memiliki makna bahwa sepanjang waktu, jagat raya menuju keacakan yang semakin besar. Semua ini alamiah terjadi di jutaan galaksi yang telah diketahui dan belum diketahui.

Apa konsekuensi dari semua ini? Kelak, jagat raya akan mengalami kejenuhan dan memperbaiki diri hingga akhirnya mengalami kehancuran alamiahnya.

Dalam konteks titimangsa kiwari, kerusakan di bumi membikin banyak manusia mengkreasi gerakan ramah lingkungan untuk menghindari kerusakan yang semakin parah. Ini tentu saja baik dan dalam taraf tertentu, saya setuju dan ikut gerakan ini.

Ada satu gerakan yang kemudian mengajak saya kembali mengingat entropi dalam ilmu termodinamika. Gerakan itu adalah gerakan yang mengajak manusia untuk nol sampah, atau bahasa kerennya disebut zero waste. Ini tentu saja baik dan menarik. Sangat menarik.

Namun, pada kenyataannya, gerakan ini mustahil dan menentang hukum alam yang sudah jutaan tahun berlaku di jagat raya.

Adalah mustahil manusia benar-benar nol sampah, nihil limbah. Sangat mustahil. Tingkat kemustahilannya di bumi ini sedikit di bawah kemustahilan seseorang memakan kepalanya sendiri.

Mulai dari bangun tidur, hingga kembali lagi beranjak tidur, manusia mesti dan wajib memproduksi sampah, mengeluarkan limbah. Secara alamiah ini membikin derajat keacakan jagat menuju kehancuran tetap dan selalu bernilai positif.

Apa iya kamu semua tidak pernah mandi sama sekali, produksi makanan dan minuman, berjalan dan bekerja, bercengkerama dengan keluarga, menggunakan hape, menonton televisi, penerangan di malam hari, apa saja, sebutkan, semua itu mustahil nir-limbah, tanpa sampah.

Jika Anda tetap berargumen semua itu bisa diupayakan nir-limbah, silakan saja, silakan. Tetapi apa mungkin Anda tidak bernapas, tidak kentut dan berak? Tidak mungkin, tidak mungkin. Dan semua aktivitas itu, tetap memprodukasi limbah. Kelak jika kita mati pun, kita belum terbebas dari produksi limbah karena mayat kita yang membusuk, terus memproduksi limbah yang tetap menyumbang derajat entropi tetap pada posisi positif. Toh, sampai sekarang, belum adakan sebuah teknologi dan manusia-manusia yang mau dan mampu mendaur ulang kentut dan pembuangan pernapasan.

Saya bukan hendak melemahkan ajakan untuk mengurangi sampah, mengurangi produksi limbah dari aktivitas manusia. Itu perlu dan penting saat ini. Namun, sudah sebaiknya dan semestinya gerakan itu menyasar ke arah yang lebih efektif, bukan malah mengajak gerakan individu nol sampah yang mustahil dan melawan hukum alam.

Kerusakan hutan untuk pertambangan dan perkebunan skala besar, produksi energi berlebih yang menyumbang limbah terbesar di bumi, dan rupa-rupa skema global kapitalistik yang melulu berpedoman pada keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan produksi limbah mereka, itu yang semestinya dituju untuk gerakan ramah lingkungan.

Tugas umat manusia dari dahulu hingga kini, adalah berupaya menunda kehancuran agar tidak terjadi terlalu cepat. Bukan, bukan betul-betul menghilangkan limbah, menghilangkan produksi sampah. Itu mustahil, itu utopia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *