Bagor

Kedua orang tuanya menamainya¬†Muh Fauzan Affandi. Dalam bahasa arab, Fauzan memiliki akar kata yang sama dengan Fawaz, salah satu artinya adalah ‘beruntung’. Teman-teman di organisasi kami karib menyapanya ‘Bagor’. Ini bukan Bagor tokoh legendaris di buku ‘Para Bajingan Yang Menyenangkan’ itu. Ini Bagor yang lain, Bagor yang asli Sleman dan mengambil studi jurusan teknik sipil di kampus kami.

Konon kabarnya, Ia diberi nama lapangan Bagor karena tenaganya yang berlebih dibanding teman-teman lainnya. Kekuatan fisiknya bikin para seniornya kagum kemudian menamainya ‘Bagor’ singkatan dari ‘Bayi Gorila’. Saya tak mengalami langsung sejarah pendidikan dasar Bagor dan rekan-rekannya di organisasi kami. Karena ketika mereka berproses, saya sedang bertugas di Sokola Rimba, Jambi.

Di organisasi kami, tidak ada arahan langsung untuk aktif berkecimpung di bidang kesukarelawanan. Organsisasi sekadar memfasilitasi, jika diibaratkan, organisasi sekadar memberikan ‘kue’ di atas piring, siapa saja silakan mengambil sekehendaknya, tidak mengambil juga tak mengapa, tidak ada kewajiban di sana. Bagor, menjadi salah seorang yang mengambil menu ‘kesukarelawanan’ itu dalam porsi besar, porsi yang banyak.

Pada tahun pertama bergabung di organisasi kami, Bagor dan rekan-rekannya langsung berangkat ke Desa Calabai, salah satu desa di kaki gunung Tambora. Di sana, bersama masyarakat, mereka belajar pembuatan pupuk organik menggunakan kotoran ternak yang jumlahnya melimpah di desa itu.

Bagor termasuk telat masuk organisasi kami. Pada awal ia masuk kampus, sebenarnya ia sudah mendaftar ikut organisasi, namun kemudian ia menundanya setahun karena di tahun pertama itu ia fokus membantu para penyintas bencana letusan Gunung Merapi pada 2010.

Di tahun kedua aktif di organisasi kami, Bagor ikut tim ekspedisi ke Pulau Seram di Maluku. Di sana, lebih dua bulan ia dan rekan-rekannya melakukan kegiatan bersama masyarakat Desa Kanikeh. Belajar bersama anak-anaknya, dan bekerja bersama orang dewasa di desa yang akses menuju ke sana harus berjalan kaki selama dua hari penuh dari jalan terakhir tempat bisa diakses kendaraan bermotor.

Selain di organisasi kami, Bagor juga aktif di Sekretariat Bersama Himpunan Pencinta Alam Yogyakarta (Sekber PPA DIY). Di sana ia sempat diberi amanah mengepalai Pokja Search and Rescue (SAR). Ketika Gunung Kelud meletus, ia ikut tim Sekber terjun langsung ke lapangan membantu para penyintas. Dan masih banyak lagi kerja-kerja kerelawanan yang dilakukan Bagor.

Selepas lulus dan menjadi sarjana teknik sipil, Ia mendaftar menjadi relawan kemandirian energi program milik kementerian ESDM. Bagor kemudian ditempatkan di Pulau Rote, NTT, bekerja bersama warga di sana dan mengawal pembangunan pembangkit listrik tenaga surya untuk desa. Pergantian menteri di kementerian ESDM membikin program baik itu terhenti, dari rencana awal satu tahun di Pulau Rote, baru enam bulan ia di sana, Bagor dipulangkan.

Kembali ke Yogya, Bagor kemudian menjadi fasilitator di Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogya. Di sela kesibukan menjadi fasilitator di SALAM, Ia membantu kedua orang tuanya jualan sayur mayur di Pasar Kolombo, Sleman, 200 meter saja dari rumah kontrakan saya dan Lala. Salah satu kelebihan Bagor lainnya, Ia begitu gemar membaca buku, sering mengontak saya untuk minta rekomendasi buku yang baik untuk ia baca.

Tahun lalu, atas bantuan Bagor, saya dan KBEA bisa mendapat bibit cengkeh dengan harga murah untuk kami tanam di Desa Turgo pada acara bertajuk ‘Menanam Adalah Melawan’. Bagor yang langsung mengantar saya membeli bibit di barat Purworejo, dua jam perjalanan dari Yogya.

Pada awal saya dan rekan-rekan di Sokola Kaki Gunung membuka program di Jember, tiba-tiba Bagor datang seorang diri ke lokasi program Sokola Kaki Gunung. Lebih dua pekan Bagor membantu kami di Jember, ikut mengajar dan membikin jalan batu dari pendopo ke kamar mandi yang sebelumnya becek jika hujan turun sebentar saja. Lagi-lagi seorang diri Ia membikin jalan batu itu.

Beberapa hari lalu Bagor mengamuk karena Ia menganggap organisasi kami begitu lamban menanggapi bencana gempa di Pulau Lombok. Saya coba menenangkannya, mengajaknya berdiskusi pelan-pelan. Dua hari setelah amukannya, Bagor berangkat seorang diri ke Lombok. Dari Yogya mengendarai sepeda motor seorang diri. Yogya-Surabaya lewat jalur darat, kemudian dari Surabaya ia dab sepeda motornya menumpang kapal laut hingga Lombok.

Setibanya di Lombok, Ia mengontak saya, “Kang, ini aku, Bagor. Hapeku hilang, ini aku pinjam hape teman-teman di posko. Aku sudah di Lombok Utara sekarang. Rencananya mau lama di sini. Kalau kamu atau kenalanmu mau kirim bantuan ke sini, aku bisa fasilitasi untuk menyalurkannya.”

Demi Allah, saya iri dengan Bagor. Entah sakit apa dia itu sehingga selalu begitu, selalu saja datang langsung membantu dengan sukarela dalam momen-momen genting seperti ini. Senang bisa mengenal kamu, Gor. Hormat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *