Catatan dari Desa Karawana

Menuju Sulawesi Tengah (4 Oktober 2018)

Ketika berita tentang gempa disusul tsunami melanda Donggala, Palu dan sekitarnya, saya sedang berada di Pulau Batam. Lewat grup whatsapp, saya ikut koordinasi tanggap bencana yang dilakukan rekan-rekan saya di pencinta alam Satu Bumi. Rekan-rekan di Yogya langsung membentuk posko. Di luar tim utama di Yogya, masing-masing dari kami langsung bergerak secara organik sesuai kapasitas masing-masing.

Selain mencari informasi yang dibutuhkan, saya lekas koordinasi langsung dengan ketua posko yang juga ketua Mapala Satu Bumi, Usie namanya. Perempuan berjilbab ini mendalami teknik fisika di kampus. Ia juga pandai melukis dan membikin puisi. Continue reading “Catatan dari Desa Karawana”

Desa Karawana dan Olahraga Voli

Balai Pertemuan Desa berukuran 15 kali 6 meter. Sisi memanjangnya membentang dari utara ke selatan. Ada tiga pintu masuk, dua pintu berhadapan di sisi barat dan timur, dan satu pintu lagi di sisi utara.

Dinding di sisi barat, timur dan utara, memiliki tinggi 120 sentimeter. Sedang dinding sisi selatan, menutup seluruh gedung berbatasan dengan gudang pangan desa. Pintu-pintu di tiga sisi pada mulanya memiliki lebar sekira 100 sentimeter. Continue reading “Desa Karawana dan Olahraga Voli”

Sambal Dabu-Dabu Bikinan Mama Din

Saya mengingat-ingat dengan keras kapan kali pertama saya berjumpa dengan Mama Din. Saya kesulitan. Ketika akhirnya saya benar-benar ingat, saya tersenyum lebar. Mama Din meminta saya makan, laiknya seorang Ibu kepada anak. Sembari menyantap makanan, saya berbincang dengan Mama Din. Menanyakan nama-nama masakan yang dibikin dapur umum hari itu. Mama Din menjawab pertanyaan saya dengan penjelasan menarik.

Ketika gempa mengguncang Palu dan sekitarnya, termasuk Desa Karawana tempat Mama Din tinggal bersama keluarganya, Mama Din sedang menggoreng pisang. Tanah yang bergoyang membuatnya terjatuh. Ia kesulitan untuk bangun. Ia baru bisa menyelamatkan diri ke tempat aman ketika guncangan besar berakhir. Continue reading “Sambal Dabu-Dabu Bikinan Mama Din”

Bang Budi dari Bodhi Karavana

Nasib mempertemukan kami di Desa Karawana. Kami berkenalan sesaat sebelum kami sama-sama pergi ke gunung menumpang truk tentara untuk ambil bambu yang akan digunakan sebagai rangka SD darurat. Ia memperkenalkan diri, Budi namanya.

Budi memimpin rombongan mencari ruas-ruas bambu yang cocok sebagai kerangka. Namun ‘keengganan’ tentara yang turut serta mengambil bambu turun ke lereng-lereng terjal, membikin bambu-bambu yang diambil tidak sesuai dengan keinginannya, bambu yang sudah tua dan kuat. Continue reading “Bang Budi dari Bodhi Karavana”

Sutrisno dan Kandang Kambing Miliknya

Lebih dua pekan tinggal bersama masyarakat Desa Karawana, ragam bentuk cerita tentang hidup dan kehidupan manusia saya dapat. Pelajaran-pelajaran berharga dari manusia-manusia yang sedang ditimpa musibah dan terus berusaha untuk bangkit mengalir deras mengisi pundi-pundi ketidaktahuan.

Adalah Pak Sutrisno, warga RT 10, Dusun Empat, Desa Karawana. Ia sudah 19 tahun tinggal di Desa Karawana. Saya berjumpa dengan Pak Sutrisno sehari lalu ketika saya bersama pemuda desa melakukan pemetaan desa. Sebelum merantau ke sini, Ia lama mengais rezeki di Malaysia. Pak Sutrisno berasal dari pantai selatan Banyuwangi. Selepas merantau dan akhirnya menikah dengan warga asli Desa Karawana, Pak Sutrisno sempat lima kali kembali ke Banyuwangi membawa serta anak dan istrinya. Continue reading “Sutrisno dan Kandang Kambing Miliknya”

Dini Hari di Posko Desa Karawana

 

Sudah jam 12 lebih 21 menit di sini, 22 Oktober 2018. Sudah memasuki dini hari. Saya duduk bersandar di sisi timur lapangan voli tak jauh dari posko. Mbah Jarot baru saja terjaga. Bagor baru mulai tidur. Sedang Uba, Tebe dan Ega sudah dari tadi tidur.

Seorang Bapak, kami biasa menyapanya Pak Sam, sedang mencuci kasur di halaman belakang rumahnya, tepat di sisi utara lapangan voli. Kasur itu Ia ambil dari rumah milik sepupu istrinya di desa Jonooge. Hanya itu yang bisa Ia selamatkan dari rumah yang sudah tertimbun lumpur likuifaksi. Alhamdulillah keluarga sepupu istrinya selamat dari tragedi likuifaksi. Mereka semua masih mengungsi di gunung di timur desa. Rencananya, setelah kasur selesai dicuci dan dijemur hingga kering, kasur itu akan Ia antar ke lokasi pengungsian sepupu istrinya di gunung sana. Continue reading “Dini Hari di Posko Desa Karawana”

Rumah Kayu Pak Haji Tosan

Siang tadi, 18 Oktober 2018, saya berjumpa dengan Pak Haji Tosan, 62 tahun, warga dusun empat, Desa Karawana, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dusunnya terletak kurang dari satu kilometer dari Desa Jonooge, desa yang sebagian besar wilayahnya mengalami likuifaksi sesaat setelah gempa mengguncang Palu dan sekitarnya.

Ada banyak pelajaran yang saya dapat selama berbincang dengan Pak Haji Tosan. Salah satunya, cerita tentang dua buah rumah miliknya. Continue reading “Rumah Kayu Pak Haji Tosan”

Jodoh

Mungkin begitu yang terjadi antara saya dan anak-anak. Kami berjodoh, dan kami selalu memiliki kecocokan juga frekuensi yang sama. Saya selalu bersyukur diberi berkah mudah akrab dengan anak-anak, pun begitu sebaliknya.

Di lokasi-lokasi tugas bersama Sokola Rimba, juga di lokasi-lokasi bencana tempat saya berkesempatan belajar dari masyarakat yang berjuang untuk bangkit dari rasa sedih dan kecewa menuju hidup dan kehidupan normal sebagaimana biasa, saya begitu dekat dan membangun hubungan emosional yang baik dengan anak-anak. Continue reading “Jodoh”

Tebe

Tahun 2012, memasuki pancaroba. Musim hujan akan berakhir, musim kemarau segera tiba. Cuaca tak menentu. Hujan berganti panas dengan cepat ketika itu. Tiga belas orang sedang berada di Pegunungan Iyang. Mendaki Puncak Argopuro dan Puncak Rengganis. Empat orang dari mereka sedang menjalani proses pendidikan lanjutan divisi gunung hutan. Tiga perempuan, satu laki-laki.

Sisanya sebagai tim pendamping dan tim hura-hura. Saya satu di antaranya. Masuk tim hura-hura. Lima hari empat malam perjalanan kami dari Desa Baderan di Kabupaten Situbondo melintasi Pegunungan Iyang hingga Desa Bremi di Kabupaten Probolinggo. Continue reading “Tebe”

Uba dan Bagor

Pada 8 Oktober 2018, memasuki hari ke empat Bagor dan Uba berada di Donggala, Sulawesi Tengah. Mereka ikut bergabung dengan Tim Relawan Kemanusiaan Insist. Setelah assessment di Donggala selesai, ada rencana mereka akan pindah ke Palu, juga bersama tim TRK Insist.

Uba tiba di Makassar Rabu dini hari, 3 Oktober 2018. Ia berangkat dari Padang, kebetulan Uba sedang Mudik. Bagor sudah menunggu Uba. Ia tiba di Makassar dua hari lebih cepat dari Uba. Rabu malam mereka berangkat bersama TRK Insist menuju Donggala. Jumat pagi, 5 Oktober 2018, tim tiba di Donggala. Continue reading “Uba dan Bagor”