Catatan Kecil Tentang Tuntutan Kemerdekaan Papua

Di sebuah kampung di pedalaman Papua, di suatu pagi yang mulai panas oleh cahaya matahari. Derap langkah puluhan manusia di atas rumah panggung yang terbuat dari kayu besi terdengar riuh. Puluhan anak berbagai usia, berkulit hitam, berambut keriting dengan senyum manis terpancar dari wajah mereka berkumpul di bangunan yang diperuntukkan sebagai ruang belajar mereka. Kaca-kaca pecah, atap bangunan rusak tertimpa pohon tumbang, air mengalir darinya saat hujan turun, timbulkan genangan dalam ruangan yang lama tak terurus.

Ansel, guru agama yang ditugaskan di kampung tersebut meminta anak-anak segera berkumpul di halaman. Tanpa diberi aba-aba mereka berbaris rapi dalam dua barisan. Satu persatu nama-nama disebutkan. Kemudian doa Bapak Kami dibaca bersama-sama sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai.

Bapa kami yang ada di surga

Dimuliakanlah nama-Mu

Datanglah Kerajaan-Mu

Jadilah kehendak-Mu

Di atas bumi seperti di dalam surga

Berilah kami rejeki pada hari ini

Dan ampunilah kesalahan kami

Seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan

Tetapi bebaskan kami dari yang jahat

[Karena Engkaulah yang empunya kerajaan dan kuasa dan kemuliaan sampai selama-lamanya]

Amin.

Selepas membaca doa, anak-anak dibagi dalam tiga kelompok besar sesuai usia dan pengetahuan dasar mereka. Dua kelompok belajar di dalam ruangan, satu kelompok lainnya belajar di selasar bangunan.

Delapan buah meja panjang yang dilengkapi laci tersusun rapi dengan kursi. Seharusnya tiap kursi diisi dua orang saja, karena keterbatasan jumlah meja dan kursi, beberapa kursi diisi tiga orang. Buku dan pena dikeluarkan dari saku celana. Beberapa anak membawa buku dan pena dalam tas, ada juga yang membawa perlengkapan belajar dalam kontong kresek hitam berukuran besar.

Saya menatap ke arah lantai, tak ada seorang pun yang bersepatu, sebagian kecil mengenakan sandal jepit, sisanya bertelanjang kaki. Pandangan mata saya naikkan sedikit, sebagian kecil dari mereka berseragam merah putih layaknya anak-anak di sekolah dasar. Beberapa mengenakan seragam olahraga bertuliskan Sekolah Dasar Kabupaten Asmat. Sisanya mengenakan kaos sepak bola lengkap dengan nomor punggung dan nama pemain, ada Messi, Ronaldo, juga Boaz.

Atap yang terbuat dari seng sebabkan hawa kian panas meskipun pagi baru saja tiba. Papan yang kehitamannya semakin pudar terpaku di dinding ruangan. Kapur-kapur berserakan. Yosepha Toraisop maju ke depan, menggunakan kertas yang ia temukan di lantai, secara sukarela ia membersihkan papan dari tulisan-tulisan pelajaran hari sebelumnya. Sesekali suara truk yang melintas di jalan berbatu terdengar oleh kami. Beberapa anak mengintip dari jendela perhatikan truk yang melintas.

Hari itu kami belajar bangun ruang. Bujur sangkar, persegi panjang dan lingkaran. Mencoba menghitung keliling dan luasan dari bangun ruang yang kami pelajari. Sekali dua diberi contoh, kebanyakan mereka langsung paham cara-cara menentukan keliling dan luasan bangun ruang yang kami pelajari. Sedikit saja yang butuh berkali-kali penjelasan agar materi yang sedang dipelajari benar-benar bisa mereka pahami.

Suara truk yang melintas kembali terdengar. Kali ini mesin truk mati tepat di depan sekolah kami. Tujuh orang berseragam loreng turun dari truk. Dengan langkah tegap mereka bergerak menuju bangunan sekolah. Kami tetap melanjutkan pelajaran hingga salah seorang dari mereka mengetuk pintu dan memberi salam.

“Selamat pagi, Pak Guru.” Sapa salah seorang berseragam loreng. Saya dan Ansel segera menemuinya. Akbar masih belajar bersama anak-anak.

“Selamat pagi, Pak.” Jawab Ansel diikuti saya.

“Kami sedang patroli ini, jadwal piket. Kami mau lihat-lihat kegiatan di sini.”

“Oh baik, Pak, silakan.” Jawab Ansel.

Saya kembali ke kelas, melanjutkan pelajaran bangun ruang bersama murid-murid di kelas. Mereka bertujuh kemudian memasuki kelas, melihat langsung kegiatan belajar kami. Dua orang memeriksa buku murid-murid dengan saksama, sisanya sekadar hilir mudik di dalam kelas.

Kelas sunyi, tak seorang pun di antara saya dan murid-murid bersuara. Yang terdengar hanya suara sepatu para tentara yang beradu dengan lantai kayu. Sesekali para tentara itu bersuara, bertanya kepada saya atau murid-murid. Saya menjawab, murid-murid tidak. Lalu mereka pindah ke kelas sebelah, tempat Akbar belajar bersama anak-anak.

Usai melihat-lihat kegiatan kami, rombongan tentara itu memanggil saya, Ansel dan Akbar. Mereka mengajak kami berbincang. Intinya mereka meminta kami siaga dan waspada karena tak akan lama lagi tanggal 1 Desember tiba, 1 Desember 2014. Mereka juga meminta kami kooperatif kalau-kalau ada sesuatu yang mencurigakan di kampung terkait perayaan 1 Desember.

Tanggal 1 Desember biasa diperingati di Papua sebagai hari kemerdekaan Papua. Biasanya mereka yang menginginkan kemerdekaan Papua dari Indonesia akan merayakan 1 Desember dengan upacara pengibaran bendera Bintang Kejora. Tentara pasti melarang kegiatan itu. Kerap kericuhan terjadi saat perayaan 1 Desember di Papua. Tak sedikit korban bermunculan, ada yang terluka, pernah juga korban meninggal dunia. Yang selamat langsung masuk penjara.

Saya tak ambil pusing dengan permintaan para tentara yang datang berkunjung ke sekolah kami. Diminta kooperatif, buat apa? Supaya jadi mata-mata? Agar ada yang ditangkap atas laporan saya? Ndasmu, Pak. Ya gak mau lah.

Perihal Papua, entah sejak kapan saya begitu mencintai Papua. Sudah sejak lama saya selalu mengikuti berita perkembangan Papua. Berita apapun itu, asal ada kaitannya dengan Papua saya pasti menyimaknya baik-baik.

Menyimak berita tentang Papua, yang melulu terdengar tentu saja tentang ketidakadilan yang diterima penduduk asli Papua. Tentang ruang hidup, distribusi sumber daya alam, pelayanan kesehatan, fasilitas transportasi, dan hak untuk mendapatkan pendidikan yang layak serta banyak hal lainnya.

Mari saya ajak Anda langsung untuk melihat realitas yang ada di lapangan, terutama tentang layanan pendidikan yang sama sekali belum berpihak kepada kebanyakan anak-anak Papua. Kebetulan saya terjun langsung ke lapangan untuk hal ini.

Di Kabupaten Asmat, pelayanan pendidikan seakan dijalankan dengan setengah hati. Fasilitas pendidikan tak memadai, dan, yang kian memprihatinkan, tenaga guru sangat kurang. Hal ini diperparah oleh sistem pendidikan yang mengadopsi langsung sistem pendidikan dari pusat untuk diterapkan di Kabupaten Asmat. Penyeragaman dilakukan, semua harus sama, muatan lokal untuk mengakomodasi kearifan lokal tempat murid-murid berasal diadakan sekadar untuk menggugurkan kewajiban, sama sekali tak menyentuh hal-hal prinsip yang dianut komunitas tempat murid-murid berasal.

Padahal, konsep hidup keseharian murid-murid dan komunitas tempat mereka berasal sangat jauh berbeda dengan konsep hidup kaum urban yang dijadikan dasar pijakan menyusun kurikulum sistem pendidikan yang diterapkan seragam di seluruh Indonesia. Dengan kondisi semacam ini, banyak murid-murid yang kesulitan mengikuti pelajaran. Bukan satu dua saya menemukan kasus anak usia sekolah menengah atas [SMA] yang sekadar untuk membaca saja belum lancar.

Di atas kapal laut yang membawa saya dari Timika ke Agats [Ibukota Kabupaten Asmat], saya mendengar langsung cerita sedih dari para guru muda yang ditugaskan untuk mengabdi di Kabupaten Asmat. Mereka mengeluhkan banyaknya tuntutan yang dibebankan kepada mereka untuk diterapkan selama bertugas di Kabupaten Asmat. Tuntutan yang datangnya dari Departemen Pendidikan, lembaga yang mengirim guru muda ini ke Kabupaten Asmat. Sedangkan membaca saja banyak yang belum lancar, bagaimana bisa menjejalkan materi-materi lain yang rasa-rasanya sangat berat dipelajari murid-murid. Beberapa dari mereka mengakali masalah ini dengan memberikan kelas tambahan di luar jam pelajaran. Kelas tambahan ini dikhususkan untuk belajar membaca.

Saya begitu mencintai Papua. Jika sekadar menggunakan perasaan semata, tentu saya berharap Papua bagian dari Indonesia, negara yang di ibukotanya lah saya lahir, tumbuh dan besar. Tetapi, menyaksikan ketidakadilan yang dialami saudara-saudara saya di Papua, dari satu sisi saja, dari pelayanan pendidikan yang mereka terima, saya merasa sangat wajar jika banyak saudara di Papua yang menuntut untuk merdeka dari Indonesia. Semoga Anda juga bisa memahami semua ini.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *