Balas Dendam

Saya pernah sangat murka kepada Becayo, salah seorang anak rimba teman saya belajar di Sokola Rimba. Becayo, seperti kebanyakan anak-anak rimba lainnya, begitu mahir menggunakan ketapel. Bagi anak-anak rimba, memainkan ketapel adalah pelajaran paling mendasar untuk berburu. Bagaimana membidik sasaran tembak, juga membaca waktu-waktu lengah buruan dan jejak binatang buruan.

Sekali waktu saat senja usai belajar, Becayo mengajak saya pergi memecion (jalan menelusuri hutan mencari binatang buruan dengan senjata utama ketapel). Selain Becayo, Bedundang juga ikut menemani kami. Sepanjang perjalanan, Becayo betul-betul mempecundangi saya.

Pertama, ia sengaja menyimpang memasuki semak belukar yang banyak ditumbuhi tanaman jelateng. Kaki, tangan, bahkan hingga wajah saya gatal-gatal karena menyentuh daun jelateng. Setelah itu, ia berbelok ke semak lainnya. Entah bagaimana caranya, di pintu masuk ke rerimbunan semak, Becayo sudah memasang jerat. Kaki saya menginjak jerat yang ia pasang, saya kesulitan melepas jerat tersebut.

Semak belukar yang ia masuki banyak ditumbuhi pohon rotan, kaki dan tangan saya kerap tersangkut duri rotan, sakit bukan buatan. Becayo dan Bedundang puas menertawakan saya yang kesakitan. Usai meninggalkan hutan pohon rotan, Becayo dan Bedundang sengaja berdiri di suatu tempat agar saya berdiri tepat di tempat kerumunan semut slembedo. Semut jenis ini begitu sakit dan panas terasa di kulit jika menggigit.

Setelah itu, saya mulai kian waspada dengan rencana busuk Becayo. Saat ia mengajak saya melihat jerat kancil yang ia pasang dua hari sebelumnya, kalau-kalau jerat itu berhasil mengenai kancil, saya ekstra waspada. Namun kewaspadaan saya kalah jauh dengan kecerdikan Becayo. Jerat kancil yang ia pasang malah mengikat kaki kiri saya. Bangsat. Saat saya berusaha melepas jerat di kaki, Becayo dan Bedundang tertawa puas, Becayo menghilang kemudian. Ternyata ia merencanakan kejahatan berikutnya.

Kami berjalan santai, beberapa ekor burung dan tupai berhasil ia bidik menggunakan ketapelnya. Kami panen besar. Saat tiba di hulu sungai Makekal dan kami harus menyeberanginya, Becayo asyik melenggang menyeberangi sebatang kayu yang melintang di atas sungai, pun begitu dengan Bedundang. Saat tiba giliran saya, kayu yang saya pijak patah. Saya tersungkur jatuh ke sungai Makekal. Ternyata sebelumnya Becayo sudah mendisain sedemikian rupa agar saat saya meniti batang itu, batang patah dan saya tercebur ke sungai. Bajingan kecil yang tengik memang anak ini.

Akhirnya, di perjalanan pulang, Becayo dan Bedundang melempari sarang lebah. Kami semua berlari ketakutan dikejar lebah. Saya kembali ke sungai dan menceburkan diri agar selamat dari sengatan lebah. Betul-betul setan kecil Becayo ketika itu. Kami hanya tertawa-tawa selanjutnya, menertawai kelicikan Becayo dan betapa nelangsanya saya dipecundangi Becayo yang saat itu saya perkirakan usianya antara 12 dan 13 tahun.

Saya betul-betul mengingat-ingat momen dipecundangi itu. Dan saya memeras akal agar bisa membalas, setidaknya cukup setimpal.

Kesempatan balas dendam akhirnya saya dapat ketika saya mengajak Becayo ke kota Bangko. Saya mengajak Becayo jalan-jalan di kota Bangko. Sebelumnya saya sudah memastikan bahwa Becayo tidak membawa uang sama sekali.

Jauh-jauh hari Becayo bilang kepada saya jika ia ingin cukur rambut. Saya mengajak Becayo cukur rambut di tukang cukur di seberang pedagang mi ayam Solo langganan saya. Saat proses mencukur rambut Becayo hampir selesai, menggunakan sepeda motor saya kemudian pergi.

Enam batang rokok kretek saya habiskan di halaman depan gedung DPRD Kabupaten Merangin sebelum akhirnya saya kembali ke kios tukang cukur. Becayo sudah menunggu di luar kios dengan muka pucat dan panik.

“Behelo anjing. Engka mikai pergi. Ake bingung.” Ujar Becayo menanyakan mengapa saya pergi sebelum membayar ongkos cukur rambutnya, meninggalkan ia seorang diri di tukang cukur.

Di perjalanan pulang, saya sengaja singgah di kios penjual rokok. Saya membeli rokok. Sekira 100 meter dari kios penjual rokok, ada penjual gorengan. Saya meminta Becayo memesan gorengan Rp20 ribu di sana. Ia meminta uangnya, saya bilang tunggu kembalian uang rokok. Nanti saya menyusul. Ia percaya karena memang penjual rokok sedang menukarkan uang pecahan Rp100 ribu milik saya untuk kembalian. Sebelumnya, saat meninggalkan Becayo seorang diri di kios tukang cukur, saya sudah bersepakat dengan penjual rokok agar ia bilang tidak ada kembalian dan menukar uang dulu untuk kembalian.

Dari kejauhan saya teriak ke penjual gorengan saat Becayo sudah berada di sana, “Dua puluh ribu, Bu. Campur, tapi tahu dan bakwannya dibanyakin ya.” Saat Becayo sudah menerima gorengan pesanan, saya menyalakan mesin motor, kemudian kembali pergi meninggalkan Becayo seorang diri.

Satu jam kemudian saya kembali dan menemukan Becayo masih duduk termenung di dekat tukang gorengan. Ia marah-marah saat saya datang. Usai membayar, kami pergi sembari tertawa.

Di perjalanan pulang, saya sengaja melewati jalan utama kota Bangko. Tak jauh dari pos polisi, saya melihat polisi keluar pos. Seketika saya meminggirkan motor, mematikan mesin kemudian memarkir motor sekenanya. Lalu saya berujar kepada Becayo, “Lari guding, ada razia, kita mau ditangkap.”

Saya berinisiatif lari kencang, Becayo ikut lari, lebih kencang. Saat Becayo berhasil menyusul saya, saya memperlambat kecepatan. Becayo masih terus berlari sepenuh hati. Saya kemudian kembali ke arah sepeda motor.

Mengendarai sepeda motor, saya melintasi Becayo yang kelelahan usai berlari, kemudian saya berujar, “Ake duluan ibo, kantor kita sudah dekat. Sampai bertemu di kantor.”

Sekira 20 menit kemudian, saya menyambut Becayo di kantor Sokola, Bangko sembari menikmati secangkir teh panas, gorengan hangat, dan sebatang kretek sembari klepas-klepus.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *