Catatan Kecil Tentang Tuntutan Kemerdekaan Papua

Di sebuah kampung di pedalaman Papua, di suatu pagi yang mulai panas oleh cahaya matahari. Derap langkah puluhan manusia di atas rumah panggung yang terbuat dari kayu besi terdengar riuh. Puluhan anak berbagai usia, berkulit hitam, berambut keriting dengan senyum manis terpancar dari wajah mereka berkumpul di bangunan yang diperuntukkan sebagai ruang belajar mereka. Kaca-kaca pecah, atap bangunan rusak tertimpa pohon tumbang, air mengalir darinya saat hujan turun, timbulkan genangan dalam ruangan yang lama tak terurus. Continue reading “Catatan Kecil Tentang Tuntutan Kemerdekaan Papua”

Lapar

Pada 2016, Organisasi Pangan dan Pertanian di bawah PBB (FAO) mencatat ada lebih dari 815 juta jiwa di seluruh dunia yang menderita kelaparan. Angka ini meningkat 38 juta jiwa dari tahun sebelumnya. Peningkatan ini menjadi yang pertama kalinya dalam satu dekade terakhir.

Angka kelaparan dunia ini mencapai 11,3 persen dari seluruh populasi dunia. Lebih dari separuhnya, sekitar 520 juta jiwa berada di Benua Asia. Selain itu, kelaparan ini paling besar mempengaruhi masyarakat di benua Afrika. Lebih dari 20 persen populasi manusia di benua Afrika merasakan langsung dampak kelaparan dan lebih dari 45 persennya terkena imbas tak langsung dari bencana kelaparan ini. Bank Dunia lewat pelabelannya terhadap negara-negara yang dianggap miskin dan berkembang menyatakan musibah kelaparan ini paling besar dialami oleh kedua tipe negara tersebut. Continue reading “Lapar”

Merdesa di Kaki Gunung Merbabu

Sebagai orang yang lahir dan melewati masa kecil hingga remaja tak jauh dari pusat kota Jakarta, gambaran-gambaran tentang kehidupan di desa begitu mengusik pikiran saya. Entah mengapa, desa seakan memanggil saya untuk terus berkunjung, untuk terus tinggal berlama-lama dan belajar banyak hal di sana. Bukan, bukan gambaran tentang desa yang dikonstruksi melulu baik, bukan juga desa yang di sana ditimbun segala stigma buruk semisal tertinggal, terbelakang, dan primitif. Bukan itu semua. Saya kira, seperti tempat-tempat lainnya, desa juga dinamis. Bermacam kebaikan bergandengan dengan ragam bentuk keburukan. Ada hal lain yang sulit saya jelaskan yang membikin saya begitu tertarik dengan desa, lebih lagi dengan desa-desa yang terletak di kaki gunung.

Entah sejak kapan konstruksi eksotisme desa mulai terbentuk, namun orde baru berhasil memasarkan konstruksi eksotisme desa itu secara sistematis dan terpola. Orde baru mengonstruksi desa sebagai ‘surga’ di bumi. Desa adalah tempat yang asri, sejuk, hening, hijau dan rimbun, sawah terhampar, gunung tinggi menjulang, pantai indah mudah diakses, tempat kita bisa rekreasi, memancing, dan berbagai macam hal lainnya tempat kedamaian dan kebahagiaan berasal. Di desa pula tempat kita berkunjung ke kakek dan nenek, pulang ke kampung halaman, tempat kita bisa bertemu petani, nelayan, dan orang-orang baik yang serba baik dan serba menyenangkan. Apa ada desa atau dusun atau kampung yang seideal yang digambarkan di atas? Saya rasa tidak. Continue reading “Merdesa di Kaki Gunung Merbabu”

Balas Dendam

Saya pernah sangat murka kepada Becayo, salah seorang anak rimba teman saya belajar di Sokola Rimba. Becayo, seperti kebanyakan anak-anak rimba lainnya, begitu mahir menggunakan ketapel. Bagi anak-anak rimba, memainkan ketapel adalah pelajaran paling mendasar untuk berburu. Bagaimana membidik sasaran tembak, juga membaca waktu-waktu lengah buruan dan jejak binatang buruan.

Sekali waktu saat senja usai belajar, Becayo mengajak saya pergi memecion (jalan menelusuri hutan mencari binatang buruan dengan senjata utama ketapel). Selain Becayo, Bedundang juga ikut menemani kami. Sepanjang perjalanan, Becayo betul-betul mempecundangi saya. Continue reading “Balas Dendam”

Menjadi Anak dengan Seperempat Darah Arab di Tubuh

Empat orang anak mengepung saya. Memukul saya menggunakan tas milik mereka. Saya berusaha melindungi diri sebisa mungkin. Kantung plastik berisi es kelapa muda yang saya beli di halaman sekolah, saya lemparkan ke arah salah seorang di antara mereka. Selanjutnya saya melepas tas yang saya gendong di punggung, menggunakannya untuk menghalau serangan dari keempat anak itu.

Awalnya mereka menyerang saya karena kelas mereka kalah saat bertanding sepak bola dengan kelas saya. Entah mengapa saya yang menjadi bulan-bulanan mereka. Padahal ada belasan anak lain dari kelas saya. Tak berapa lama akhirnya saya paham mengapa saya yang mereka incar. Sembari terus mencoba memukul saya, mereka berteriak, “Arab goblok!” “Dasar Onta.” “Idung panjang, idung pinokio, idung gede.” Dan beberapa ejekan lainnya. Continue reading “Menjadi Anak dengan Seperempat Darah Arab di Tubuh”

Kurma Abu Turab

Abu Turab tinggal di rumah sederhana bersama seorang istri dan dua orang anak lelakinya yang masih kecil. Tak ada kasur untuk tidur, kulit domba dijadikan alas untuk keluarga itu istirahat melepas lelah.

Sekali waktu di rumah tidak ada makanan sama sekali yang bisa di makan. Abu Turab berinisiatif untuk mencari makan di luar. Ia membawa serta kedua anaknya yang masih kecil, tujuannya agar sang anak tidak merengek ke ibunya saat lapar datang dan mereka minta makan sementara tak ada makanan sama sekali di rumah. Continue reading “Kurma Abu Turab”

Perkebunan Sawit dan Bencana Lingkungan yang Mengintai Papua

Pada periode kedua di tahun 2015 yang lalu, beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan dilanda kabut asap yang cukup memprihatinkan. Provinsi Riau dan Kalimantan Tengah menjadi lokasi yang terkena dampak paling parah. Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan perkebunan ini juga berdampak ke beberapa negara tetangga. Ketegangan antara pemerintah Indonesia dengan negara-negara tetangga yang terkena dampak tak bisa dihindari. Tuntutan permintaan maaf dan penanganan kabut asap hingga tuntas terus didesak untuk segera dilakukan. Continue reading “Perkebunan Sawit dan Bencana Lingkungan yang Mengintai Papua”

Pasang Surut Komoditas Cengkeh di Aceh

Dalam ingatan para pemilik kebun cengkeh di Simeulue, peran pemerintah secara langsung pada perkebunan cengkeh terjadi pada akhir periode 60an. Saat itu Teungku Rasyidin, Wedana (pembantu bupati) yang ditugaskan di Simeulue mengeluarkan aturan yang mewajibkan setiap pemuda yang hendak menikah menanam setidaknya 25 batang cengkeh. Hukuman yang diberikan jika melanggar aturan ini tidak main-main, tidak akan dinikahkan dengan hukum nasional yang berlaku.

Tak hanya mengeluarkan peraturan progresif di bidang pertanian cengkeh, Teungku Rasyidin juga memberikan bantuan bibit cengkeh kepada pemuda yang hendak menikah dan terkena peraturan wajib menanam pohon. Selain itu, ia juga rutin memberikan bantuan bibit yang disebarkan ke seluruh Simeulue. Hasilnya, hingga saat ini Simeulue masih dikenal sebagai penghasil cengkeh terbesar di Provinsi Aceh. Continue reading “Pasang Surut Komoditas Cengkeh di Aceh”

Kursus Konservasi

Dengan suara parau, intonasi yang lambat namun jelas, lelaki paruh baya yang memiliki rambut putih lebih banyak dari rambut hitam di kepalanya itu berujar, “Sudah sejak zaman nenek moyang kami menjaga hutan kami. Hutan di tanah terban, tempelanai, pasoron, tanah perano’on dan subon hingga kini masih terjaga. Apalagi setelah hutan adat kami sepakati.”

Bepak Pengusai membakar rokok kreteknya. Duduk di lantai tanah bersandar ke dinding kayu. Kerut di wajahnya tergurat jelas, matanya menatap ke langit-langit rumah, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirannya, perkebunan sawit yang semakin mendesak ruang hidup Orang Rimba. Continue reading “Kursus Konservasi”

Kaum Hipokrit Pendukung Perjuangan Petani Kendeng

Saya terbakar amarah saat menuliskan ini. Marah, sungguh marah. Bukan marah karena sore tadi saya mau tak mau harus mengosongkan tabungan karena biaya rumah kontrakan hampir jatuh tempo. Sudah harus membayar, biaya kontrakan naik pula. Saya tidak marah karena hal itu sudah menjadi kewajiban. Rasa dongkol memang ada tetapi masih dalam tahap wajarlah.

Saya marah karena malam tadi, saat sebagian besar mata tertuju ke Jakarta mengikuti debat dan omong kosong pilkada, di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah, para petani memasuki babak baru dalam perjuangan menolak pendirian pabrik semen di tanah mereka. Intimidasi dan tindak kekerasan kian gamblang terjadi. Tenda perjuangan dan musala yang dibangun warga tolak semen dibakar oleh sekelompok orang (menurut kronologi yang dikeluarkan situsweb omahkendeng.org, para pelaku adalah sekira 70 laki-laki yang beberapa di antaranya berseragam PT Semen Indonesia). Continue reading “Kaum Hipokrit Pendukung Perjuangan Petani Kendeng”