Amarilis

Hari ini bersama Lala, saya mengantar Bapak dan Ibu mertua serta adik ipar berkunjung ke kebun bunga amarilis di Bukit Patuk, Gunung Kidul. Tahun lalu kebun bunga ini cukup viral karena ulah para pengunjung yang berfoto di area kebun sembari menginjak-injak tanaman. Hari ini pengunjung di kebun bunga yang terletak 20 meter saja dari jalan raya Yogya-Wonosari cukup ramai.

Continue reading “Amarilis”

Ditampar Guru

Belum hilang dari ingatan kita kasus guru yang dilaporkan ke polisi karena mencubit seorang murid. Pro dan kontra terkait kasus ini meruak cepat. Ragam bentuk komentar dan tanggapan datang dari berbagai kalangan masyarakat. Beberapa rekan seprofesi melakukan aksi dukungan terhadap sang guru yang sedang menghadapi persidangan. Media sosial meriah tanggapi kasus ini.

Continue reading “Ditampar Guru”

Rusdi Mathari di antara Misbach Yusa Biran dan Puthut EA

Sebutkan cita-cita yang lazim dijadikan acuan banyak anak-anak dan remaja ketika ditanya apa cita-cita mereka, kebanyakan dari cita-cita itu, juga pernah singgah di pikiran dan keinginan saya. Pilot, ilmuwan, dokter, insinyur, dan beberapa lainnya. Guru sempat singgah sebentar, namun lekas saya coret dari daftar cita-cita begitu mengetahui betapa berat beban menjadi guru.

Namun, dari banyaknya cita-cita itu, menjadi penulis sama sekali langka diingatan saya. Jangankan memasukkan profesi penulis dalam jejeran daftar cita-cita yang sempat singgah dalam diri saya, mendengar teman saya memasukkan penulis sebagai cita-cita mereka saja belum pernah sekali pun saya dengar.

Continue reading “Rusdi Mathari di antara Misbach Yusa Biran dan Puthut EA”

Kronik Perampasan Sumber Daya Alam Papua: Studi Kasus Freeport

GUGUSAN pegunungan dengan puncak salju abadi membentang di Papua. Suku Amungme menyebutnya Nemangkawi Ninggok. Artinya puncak salju abadi. Tempat suci persemayaman leluhur. Kolonial Indonesia menyebutnya Pegunungan Jayawijaya. Puncak tertinggi dikenali sebagai Cartensz Pyramid.

Saat membicarakan Papua, narasi-narasi sejarah Papua selalu dibangun dari capaian-capaian ekspedisi penaklukan. Papua dipandang sebagai lahan kosong tak bertuan, tanpa penghuni, negeri asing yang tak diketahui sebelum akhirnya ditemukan.

Continue reading “Kronik Perampasan Sumber Daya Alam Papua: Studi Kasus Freeport”

Voucher Belanja

Kisah ini terjadi beberapa hari sebelum Diego Armando Maradona diusir dari gelaran Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat karena kasus doping. Malam itu saya dan ketiga orang saudara perempuan saya begitu cemas sekaligus bahagia menanti Umi dan Abah pulang. Hari itu sudah masuk masa libur sekolah. Kami semua naik kelas dengan nilai yang memuaskan. Saya naik ke kelas tiga SD.

Continue reading “Voucher Belanja”

Ruang Bermain

Sering kali saat saya mudik dan ikut salat berjamaah di musala di Jakarta, jamaah di saf belakang menarik perhatian sekaligus mengganggu kenyamanan pandangan saya, saf yang diisi oleh anak-anak.

Bukan, bukan karena keributan yang mereka timbulkan yang menarik perhatian atau mengganggu saya. Kalau itu wajar-wajar saja. Kadang saya malah rindu suasana yang begitu itu. Keributan yang diinisiasi oleh anak-anak di masjid, musala atau langgar saat salat berjamaah. Memicu saya untuk bernostalgia masa-masa kecil saat ikut salat berjamaah, mengusili atau diusili.

Continue reading “Ruang Bermain”

Aljabar Langit

Belum tepat jam satu dini hari tadi saya mematikan mesin sepeda motor, mengambil kunci rumah, membuka pintu yang terkunci, kemudian menguncinya kembali setelah saya dan sepeda motor sudah berada di dalam rumah. Lampu ruang tamu masih menyala, juga lampu kamar tempat saya dan istri tidur. Usai mengunci pintu, saya mematikan lampu ruang tamu dan kamar tidur.

Dini hari tadi seperti dini hari yang lainnya. Sunyi, gelap, hanya suara detak jam dan derap langkah yang terdengar di telinga. Yang membedakan dini hari tadi dengan dini hari lainnya adalah, suara yang berasal dari kamar saya dan istri, suara yang menyayat hati yang sumbernya dari nafas istri saya yang sedang tidak normal.

Continue reading “Aljabar Langit”

Keluarga

Titimangsa 1994, kali pertama saya menonton sepak bola langsung di televisi. Sebelumnya saya sebatas menonton sepak bola antar-kampung di lapangan-lapangan tak jauh dari rumah kedua orang tua saya. Perhelatan Piala Dunia 1994 di Amerika Serikatlah tontonan itu. Ketika itu usia saya delapan tahun.

Kelak, saya tahu, Piala Dunia 1994 menyisakan banyak cerita menarik. Kegagalan Roberto Baggio menendang pinalti, diusirnya Maradona dari perhelatan, kiprah Bulgaria yang begitu ciamik, warna rambut unik tim nasional Rumania, dan gol bunuh diri Andrès Escobar yang menyebabkan Ia dibunuh setibanya di Kolombia. Serta banyak kisah menarik lainnya.

Continue reading “Keluarga”

Azan

Pada usia 20 tahun, Elisabeth memutuskan hanya memakan sayur dan buah-buahan saja. Vegetarian. Ia sudah merencanakan itu sejak usianya 17 tahun. Pada usia itu pula, Ia merencanakan hanya memakan buah-buahan saja mulai usia 30 tahun. Terhitung hingga hari ini, sudah empat tahun Elisabeth hanya mengonsumsi buah-buahan saja.

Elisabeth berasal dari Birmingham, Inggris. Sejak menikah dengan seorang laki-laki asal Lumajang, mereka tinggal di salah satu pulau di NTB dan mengelola lahan seluas 1000 meter persegi. Di lahan itu, Ia dan suaminya menanam buah-buahan dan sayur-sayuran. Suaminya masih vegan, belum sampai tahap seperti yang Elisabeth jalani.

Continue reading “Azan”