Menuju Bangko

Tubuh saya lelah, kantuk semakin berat terasa. Semestinya enam jam perjalanan darat menumpang minibus bisa saya manfaatkan untuk rehat. Tetapi nyatanya tidak bisa. Sopir minibus travel yang saya tumpangi menjadi musabab. Ia memutar musik dalam minibus dengan volume maksimal. Saya tidak paham genre musik apa yang sedang Ia putar. Yang jelas, suara musik yang Ia putar membikin jantung saya berdetak lebih kencang dan seperti mengikuti irama musik jedagjedug dari pengeras suara dalam minibus. Rasa lelah dan kantuk saya kalah telak oleh musik yang diputar sopir.

Continue reading “Menuju Bangko”

Panggilan Tugas

Di kamar kos berukuran tiga meter kali tiga meter, kertas- kertas penuh coretan berserakan di lantai, di meja, di atas kasur, dan di atas tumpukan pakaian kotor yang tak kunjung dicuci. Malam semakin larut saat saya sibuk dengan tugas akhir, menulis ulang skripsi yang siang tadi dicorat-coret dosen pembimbing. Rage Against The Machine keras menggema di seantero kamar melalui pintu hingga singgah di kamar-kamar kos lainnya.

Teh yang sudah dingin tersisa separuh di dalam gelas. Puntung dan abu rokok tercecer di meja dan lantai, bercampur dengan abu vulkanik Gunung Merapi yang masuk hingga kamar, abu vulkanik yang belum lama disemburkan Merapi yang kembali aktif usai empat tahun rehat. Saya mengambil gelas berisi teh, menyeruputnya perlahan, mengambil sebatang kretek, membakarnya, kemudian kembali larut di depan laptop, mengutak-atik tulisan skripsi yang harus diperbaiki. Continue reading “Panggilan Tugas”

Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin

Usai memberi salam lantas duduk di kursi kayu di halaman depan rumah kontrakan saya, Mbah Gimin mengeluarkan slepen (wadah tembakau rajangan) dari saku kemeja di dada kirinya, membuka slepen, mengeluarkan kertas linting dari dalamnya, membuka lebar-lebar kertas linting, mengambil sejumput tembakau lalu Ia taruh di atas kertas linting, menaburi beberapa butir cengkeh kering di atas tembakau, lantas menggulung kertas linting itu menjadi bentuk kerucut.

Mbah Gimin tak bicara sepanjang proses melinting itu. Usai mengulum ujung lintingan sisi lebih kecil, Mbah Gimin mengambil geretan kayu dari sakunya, menyalakan sebatang geretan dengan pemantik yang ada di kedua sisi kotak geretan, mdmbakar ujung lintingan bagian besar, menyedot asap hasil pembakaran, menghembuskannya beberapa kali, baru kemudian Ia berbicara kepada saya yang sedari tadi duduk di hadapannya memperhatikan Ia yang sedang melinting, “Bagaimana kabarmu, Le, bagaimana rasanya punya anak?” Continue reading “Perlawanan Scottian Ala Mbah Gimin”

Kangkung dan Sawi

Tak ada yang tahu dari mana Kangkung dan Sawi berasal. Yang orang tahu, Kangkung dan Sawi dibawa oleh anak-anak Dusun Tambakrejo ke Omah Pari. Mereka membawa Kangkung dan Sawi masih di dalam karung plastik berwarna putih yang biasa digunakan untuk menampung beras. Maka jika saya tanya ke Ipul, pengelola Omah Pari, dari mana Kangkung dan Sawi berasal, Ipul menjawab, “inilah yang disebut kucing dalam karung, Was!” Ia lantas tertawa.

Kangkung dan Sawi adalah dua ekor anak kucing, kali pertama saya melihatnya di Omah Pari sekira 18 bulan lalu. Ipul yang memberi nama kedua anak kucing itu dengan nama sayuran, Kangkung dan Sawi. Continue reading “Kangkung dan Sawi”

Umi Mengajak Saya Mandi Hujan

Saya banyak menyimpan kenangan pada peristiwa hujan. Kenangan-kenangan itu, muncul lebih kuat ketika hujan kembali turun. Seperti beberapa hari belakangan ketika hujan hampir setiap hari di wilayah Yogya misalnya, saya kembali mengenang peristiwa mandi hujan bersama Umi saya di Rawabelong, barat Jakarta.

Seingat saya, ketika itu saya masih sekolah SD, antara kelas empat dan kelas lima, saya lupa persisnya. Di penghujung tahun, seperti sekarang ini, musim hujan sedang pada puncaknya. Pada suatu hari selepas ashar, hujan turun begitu lebat, saya bersama teman-teman seusia di rumah, pergi mandi hujan. Continue reading “Umi Mengajak Saya Mandi Hujan”

Rudolph dan Mesin Diesel

“Pemakaian minyak nabati untuk bahan bakar mesin mungkin belum terlihat penting saat ini, namun seiring berjalan waktu minyak ini akan menjadi sepenting minyak bumi dan batu bara pada masa sekarang.” Rudolph Diesel.

Lahir di Paris dengan nama Rudolph Christian Karl Diesel Diesel (selanjutnya ditulis Diesel saja) pada 18 Maret 1858, Diesel dikenal sebagai pria berkebangsaan Jerman penemu mesin diesel. Namanya kini abadi dan terus disebut jika kita membicarakan mesin yang kini dipahami khalayak berbahan bakar solar. Continue reading “Rudolph dan Mesin Diesel”

Amarilis

Hari ini bersama Lala, saya mengantar Bapak dan Ibu mertua serta adik ipar berkunjung ke kebun bunga amarilis di Bukit Patuk, Gunung Kidul. Tahun lalu kebun bunga ini cukup viral karena ulah para pengunjung yang berfoto di area kebun sembari menginjak-injak tanaman. Hari ini pengunjung di kebun bunga yang terletak 20 meter saja dari jalan raya Yogya-Wonosari cukup ramai.

Continue reading “Amarilis”

Ditampar Guru

Belum hilang dari ingatan kita kasus guru yang dilaporkan ke polisi karena mencubit seorang murid. Pro dan kontra terkait kasus ini meruak cepat. Ragam bentuk komentar dan tanggapan datang dari berbagai kalangan masyarakat. Beberapa rekan seprofesi melakukan aksi dukungan terhadap sang guru yang sedang menghadapi persidangan. Media sosial meriah tanggapi kasus ini.

Continue reading “Ditampar Guru”

Rusdi Mathari di antara Misbach Yusa Biran dan Puthut EA

Sebutkan cita-cita yang lazim dijadikan acuan banyak anak-anak dan remaja ketika ditanya apa cita-cita mereka, kebanyakan dari cita-cita itu, juga pernah singgah di pikiran dan keinginan saya. Pilot, ilmuwan, dokter, insinyur, dan beberapa lainnya. Guru sempat singgah sebentar, namun lekas saya coret dari daftar cita-cita begitu mengetahui betapa berat beban menjadi guru.

Namun, dari banyaknya cita-cita itu, menjadi penulis sama sekali langka diingatan saya. Jangankan memasukkan profesi penulis dalam jejeran daftar cita-cita yang sempat singgah dalam diri saya, mendengar teman saya memasukkan penulis sebagai cita-cita mereka saja belum pernah sekali pun saya dengar.

Continue reading “Rusdi Mathari di antara Misbach Yusa Biran dan Puthut EA”